hainews.co.id – Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan awal pekan seiring meningkatnya kehati-hatian investor yang menunggu perkembangan terbaru konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan harga emas terjadi menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump, terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak global.

Mengutip CNBC, Selasa (7/4/2026), harga emas spot tercatat turun 0,4% menjadi USD 4.654,99 per ounce pada pukul 13.31 waktu New York. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru ditutup menguat tipis 0,1% ke level USD 4.684,70.

Pemerintah Iran menyatakan menginginkan akhir permanen dari konflik dengan AS dan Israel. Namun demikian, Iran menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz dalam kerangka gencatan senjata sementara.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras dengan mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap Teheran jika tidak tercapai kesepakatan hingga batas waktu yang ditentukan.

Ketidakpastian geopolitik ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap “wait and see”, sambil memantau arah konflik yang telah berlangsung selama lima pekan.

Tekanan Suku Bunga dan Lonjakan Minyak

Analis menilai pergerakan harga emas saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor geopolitik, tetapi juga kebijakan suku bunga global, khususnya dari Federal Reserve.

Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, mengatakan perhatian pasar saat ini terbagi antara konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter.

Menurutnya, jika konflik berlarut, harga minyak berpotensi terus meningkat akibat pasokan yang semakin ketat. Kondisi ini dapat mendorong tekanan inflasi global.

Kenaikan harga energi tersebut berpotensi membatasi ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan muncul kembali wacana kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi terus meningkat.

Sebagai aset lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi, emas biasanya diminati saat ketidakpastian meningkat. Namun, karena tidak memberikan imbal hasil bunga, emas menjadi kurang menarik ketika suku bunga berada di level tinggi.

Menanti Data Ekonomi AS

Selain perkembangan konflik, investor juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari AS, seperti risalah rapat kebijakan The Fed, data Personal Consumption Expenditures (PCE), serta indeks harga konsumen (CPI).

Sebelumnya, bank sentral AS memutuskan untuk menahan suku bunga pada bulan lalu. Mayoritas pelaku pasar kini memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.

Situasi ini membuat pergerakan harga emas ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter global.