Kementan Gaungkan Genta Organik, Tingkatkan Produktivitas Tanah Melalui Kompos Sapina

Kompos Sapina
Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi dalam acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 14, Jumat (14/04/2023) di AOR BPPSDMP. (Sumber: Humas Kementan)

Jakarta – Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas hasil pertanian di Indonesia adalah ketersediaan dan kecukupan pupuk anorganik.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan bahwa seperti diketahui tempat bahan baku maupun produksi pupuk adalah negara Rusia dan Ukraina yang sedang berperang. Oleh sebab itu, Kementan mendorong para petani menggunakan pupuk organik dan hayati secara mandiri dan masif.

“Sampai saat ini, untuk memenuhi ketersediaan dan kecukupan pupuk organik sangat sulit dan mahal karena beberapa bahan bakunya masih tergantung impor dari negara lain,” ujar Mentan SYL.

Mentan Syahrul berharap melalui Genta Organik, kebutuhan pangan tetap terjaga dan berkontribusi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi, penghasil devisa negara, sumber pendapatan utama rumah tangga petani dan penyedia lapangan kerja.

“Gerakan ini bukan berarti meninggalkan penggunaan pupuk anorganik sepenuhnya, melainkan boleh menggunakan pupuk kimia dengan ketentuan tidak berlebihan atau menggunakan konsep pemupukan berimbang”, tegas Mentan Syahrul.

Dalam acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 14, Jumat (14/04/2023) di AOR BPPSDMP, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan sampai dengan saat ini pupuk sudah memberikan kontribusi 15 sampai 75 persen terhadap tingkat produktivitas. Penggunaan pupuk berlebihan berakibat pemborosan dan tanaman sekuler kadar air tinggi.

“Gunakan pupuk secukupnya jangan berlebihan karena apabila berlebihan akan menurunkan produktivitas tanaman dan menyebabkan hama penyakit semakin meningkat”, ujar Kabadan Dedi.

Menurut Narasumber MSPP merupakan Penyuluh Pertanian Kabupaten Parigi Moutong, I Ketut Edi Sukarma menjelaskan bagaimana pembuatan pupuk kompos yang berasal dari kotoran Sapi.

“Bahan formulasi kompos sapina antara lain arang atau abu sekam, kotoran sapi, urine sapi, EM4, Molase, yakult dan air sesuai dengan kebutuhan”, jelas I Ketut Edi Sukarma.

Kompos sapina merupakan formulasi dari Kohe Sapi dan arang sekam atau abu sekam yang telah di fermentasikan dengan bahan dekomposer melalui aktifitas mikroba serta unsur dari urine sapi  diproses selama 14 hari, jelasnya.

Menurut Narasumber kedua MSPP, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah Muhammad Adam mengatakan sebagai alternatif dalam meningkatkan kesuburan tanah diantaranya adalah pembenah tanah, Pupuk Organik Padat (POP), Pupuk Organik Cair (POC) dan Pestisida Nabati (Pesnab).

Adam menjelaskan bahwa produk Kompos Sapina ini sudah diproduksi sejak 5 tahun terakhir dan banyak dipergunakan oleh petani padi, tanaman pangan, buah-buahan serta sayuran dan tanaman perkebunan yang berada di wilayah Kecamatan Balinggi dan Sausu di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah dan telah teruji meningkatkan produktivitas tanah.

“Dalam mendukung Genta Organik, BPPSDMP mengajak para Penyuluh Pertanian (PERHIPTANI)  dan Kontak Tani (KTNA, HKTI, DTI, PETANI, P4S, PERPADI) berlomba-lomba dalam membuat formulasi pupuk organik dan mempraktekkan diwilayah kerja masing-masing atau di Kelompok Tani dan Gapoktan, jelas Adam.

Sebagai informasi selain Program MSPP, Kementerian Pertanian memastikan sektor pertanian tanah air akan terus maju, mandiri dan modern. Untuk itu, Kementan memaksimalkan semua program-program andalannya tanpa terkecuali Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP).

Program Genta Organik sejalan dengan Program SIMURP melalui penerapan teknologi Climate Smart Agriculture (CSA), diantaranya menggunakan pestisida nabati, varietas padi unggul rendah emisi, teknik pengairan hemat air, jajar legowo, pemupukan berimbang dan penggunaan bahan organik diharapkan berkontribusi dalam peningkatan produktivitas dan Indeks Pertanaman (IP) padi ataupun non padi. Melalui program SIMURP diharapkan dapat menuju pertanian ramah lingkungan, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani serta mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK). (HV/NF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *