Pada malam tersebut, masyarakat Jawa juga melaksanakan ritual tirakatan, lek-lekan (tanpa tidur semalam penuh), dan tuguran (merenung sambil berdoa).
Beberapa orang bahkan memilih untuk bersemedi di tempat-tempat suci seperti puncak gunung, pantai, pepohonan yang besar, atau makam keramat.
Malam 1 Suro memiliki makna penting bagi masyarakat Jawa.
Bulan Suro dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci.
Masyarakat Jawa menggunakan bulan ini untuk merenung, tafakur, dan introspeksi guna mendekatkan diri dengan Tuhan.
Introspeksi dilakukan dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.
Pada malam 1 Suro, di Keraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa, ritual lelaku dilakukan secara bersamaan.
Di Keraton Surakarta Hadiningrat, kirab malam ini nantinya akan dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah.
Sementara, untuk di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ritual dilakukan dengan mengarak benda-benda pusaka mengelilingi benteng keraton, diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.
1 Komentar