Operasi Bariatrik Jalan Pintas Turunkan Berat Badan, Tapi Hati-Hati Bahayanya

Operasi bariatrik atau bypass lambung telah menjadi jalan pintas populer bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan secara drastis.
Operasi bariatrik atau bypass lambung telah menjadi jalan pintas populer bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan secara drastis. (Foto: Canva by Alex Negroe)

Operasi bariatrik telah menjadi jalan pintas yang populer bagi orang-orang yang ingin menurunkan berat badan secara drastis.

Namun, perlu diingat bahwa operasi bariatrik ini memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan untuk menjalaninya.

Salah satu contoh yang masih segar dalam ingatan publik adalah operasi bariatrik yang dilakukan oleh musisi Melly Goeslaw pada tahun 2022.

Melalui operasi ini, Melly berhasil menurunkan berat badannya hingga puluhan kilogram.

Operasi tersebut dilakukan setelah berbagai program diet yang dijalani tidak memberikan hasil yang signifikan.

Kadar gula darah yang tinggi dan nafsu makan yang terus meningkat menjadi faktor pendorong Melly untuk menjalani operasi bariatrik.

Operasi bariatrik, yang juga dikenal sebagai bypass lambung, melibatkan perubahan pada sistem pencernaan untuk membantu individu menurunkan berat badan.

Bariatrik berasal dari kata Baros yang berarti “berat” atau “besar”, sehingga bariatrik adalah cabang bedah yang berfokus pada penanganan pasien dengan berat badan berlebih.

Operasi ini dapat menghasilkan penurunan berat badan hingga 70% dari kelebihan berat badan dalam waktu 6-12 bulan setelah operasi.

Namun, penting untuk diingat bahwa operasi ini bukanlah solusi instan, melainkan alat bantu yang memerlukan komitmen seumur hidup dan perubahan gaya hidup.

Efek Samping dan Bahaya Operasi Bariatrik

Meskipun operasi ini dapat memberikan hasil yang positif, tidak dapat dipungkiri bahwa operasi ini juga memiliki risiko dan efek samping.

Beberapa efek samping jangka pendek yang mungkin terjadi setelah operasi meliputi :

  • Pendarahan berlebihan.
  • infeksi.
  • Reaksi terhadap anestesi.
  • Pembekuan darah
  • Masalah pada paru-paru atau sistem pernapasan.
  • Kebocoran dalam sistem pencernaan.

Selain itu, terdapat juga risiko komplikasi jangka panjang yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • Penyumbatan usus
  • Sindrom dumping yang menyebabkan diare, kemerahan, pusing, serta mual-muntah
  • Batu empedu.
  • Hernia.
  • Gula darah rendah.
  • Malnutrisi.
  • Bisul
  • Refluks asam lambung
  • Kebutuhan akan operasi tambahan.
  • Dalam kasus yang jarang terjadi, bahkan kematian.

Dengan adanya risiko dan efek samping tersebut, penting bagi seseorang yang mempertimbangkan operasi bariatrik untuk melakukan pertimbangan yang matang.

Tidak semua individu dengan berat badan berlebih perlu menjalani operasi ini.

Perubahan pola makan, gaya hidup sehat, dan pengelolaan berat badan yang konsisten juga bisa menjadi kunci utama dalam menurunkan berat badan secara aman dan efektif.

Sebelum memutuskan untuk menjalani operasi bariatrik, penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli bedah yang berpengalaman dalam bidang ini.

Mereka dapat memberikan informasi yang lebih rinci tentang prosedur, risiko, manfaat, dan langkah-langkah yang perlu diambil sebelum dan setelah operasi.

Penting juga untuk diingat bahwa setelah operasi, perubahan gaya hidup yang sehat dan dukungan yang berkelanjutan sangat penting dalam menjaga hasil yang dicapai dan mencegah efek samping yang lebih serius.

Operasi bariatrik bukanlah solusi instan, tetapi merupakan alat yang dapat membantu individu dalam mencapai tujuan penurunan berat badan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *