Dijelaskan Mukhlis, adanya pemanasan global menyebabkan lapisan es di daerah kutub mulai mencair, menjadikan naiknya permukaan air laut. Olehnya itu, cuaca terkadang menjadi ekstrim dan dengan cepat berubah tanpa bisa diprediksi lebih awal.

Cuaca yang selalu berubah-ubah, menurut Muklis telah memberi dampak pada semua sektor tidak terkecuali pertanian.

“Itu terlihat dari adanya perubahan waktu musim hujan yang berdampak terhadap bergesernya beberapa jadwal turun sawah dan beberapa jenis hama atau OPT yang menyerang,” jelas Mukhlis.

Dia memaparkan bahwa Kabupaten Pinrang untuk bulan Agustus seharusnya memasuki musim kemarau, tetapi kenyataannya masih ada hujan yang menyebabkan adanya serangan hama tikus. Jika merujuk pada tahun-tahun sebelumnya, hama tikus biasanya hanya menyerang pada bulan Mei dan Juni karena intensitas hujan akan tinggi di dua bulan tersebut.

Menyinggung tujuan dari pelatihan ini, Muklis berharap dengan adanya kegiatan seperti ini, maka akan lahir petani-petani yang mampu secara cerdas membaca iklim saat mulai melakukan usahataninya hingga bisa menyesuaikan dengan kondisi alam.