hainews.co.id – Belakangan ini, gastroesophageal reflux disease (GERD) kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Keluhan seperti dada terasa panas, jantung berdebar, hingga rasa tidak nyaman di ulu hati membuat banyak orang panik dan mengira dirinya mengidap penyakit serius. Kepanikan tersebut semakin meningkat setelah beredar kabar wafatnya seorang figur publik yang disebut memiliki riwayat GERD.

Tak sedikit warganet kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan risiko kematian mendadak, bahkan menyamakan gejalanya dengan serangan jantung. Namun, anggapan tersebut ditegaskan tidak benar.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, menegaskan bahwa GERD bukanlah penyebab kematian mendadak.
“Perlu digarisbawahi, GERD tidak menyebabkan orang meninggal mendadak. Kalau ada kejadian fatal, hampir pasti ada faktor penyakit lain yang menyertai,” ujar dr. Andi dalam Siaran Sehat Kementerian Kesehatan RI, Jumat (30/1/2026).

Apa Itu GERD?

GERD merupakan kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan (esofagus) akibat melemahnya katup pemisah antara lambung dan esofagus, yakni lower esophageal sphincter (LES). Asam lambung yang seharusnya berada di lambung kemudian mengiritasi dinding esofagus yang tidak tahan terhadap sifat asam.

Akibatnya, penderita GERD dapat merasakan sensasi panas atau terbakar di dada (heartburn), nyeri ulu hati, rasa asam di mulut, mual, hingga rasa tidak nyaman setelah makan.

Menurut dr. Andi, GERD bukan penyakit langka. Di Indonesia, sekitar 10 persen penduduk diperkirakan mengalami gejala GERD atau setara dengan puluhan juta orang.
“Di Asia Timur prevalensinya sekitar 5 persen, sementara di Amerika dan Eropa bisa mencapai 20–30 persen karena angka obesitas yang tinggi,” jelasnya.

GERD Kerap Disalahartikan sebagai Serangan Jantung

Salah satu alasan GERD sering memicu kepanikan adalah karena gejalanya mirip dengan serangan jantung. Padahal, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

“GERD biasanya didahului riwayat sakit maag. Nyeri yang dirasakan seperti terbakar karena asam lambung mengenai esofagus,” kata dr. Andi.

Sementara itu, serangan jantung umumnya menimbulkan rasa nyeri seperti ditekan atau diremas, berlangsung lebih lama, dan tidak membaik meski sudah mengonsumsi obat lambung. Selain itu, pasien jantung biasanya memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

“Kalau nyeri dada tidak membaik dengan obat lambung dan berlangsung lebih dari 10–15 menit, itu harus segera mendapatkan pertolongan medis,” tegasnya.

Gaya Hidup Jadi Faktor Utama

Dr. Andi menjelaskan, sekitar 80–90 persen kasus GERD berkaitan erat dengan pola hidup. Beberapa faktor utama pemicunya antara lain kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta pola makan yang tidak sehat.

Kelebihan berat badan meningkatkan tekanan di dalam perut sehingga melemahkan fungsi katup lambung. Sementara rokok dan alkohol dapat merusak struktur LES dan membuat esofagus lebih sensitif terhadap asam lambung.
“Semakin banyak faktor ini bergabung, risiko GERD akan semakin tinggi,” ujarnya.

Kaitan GERD dan Kesehatan Mental

Tak hanya faktor fisik, kondisi mental juga berperan besar dalam munculnya GERD. Berdasarkan pengalamannya, dr. Andi menemukan bahwa sekitar 80 persen pasien GERD juga mengalami kecemasan.

“Kecemasan bisa memicu GERD, atau sebaliknya GERD memicu kecemasan. Keduanya saling memengaruhi,” jelasnya.

Hal ini berkaitan dengan konsep brain–gut axis, yakni hubungan erat antara otak, emosi, dan sistem pencernaan. Karena itu, penanganan GERD idealnya tidak hanya berfokus pada lambung, tetapi juga mencakup manajemen stres dan kesehatan mental.

Kapan Harus ke Dokter?

Keluhan GERD ringan umumnya dapat ditangani dengan obat-obatan yang dijual bebas. Namun, dr. Andi menyarankan agar pasien segera berkonsultasi ke dokter jika keluhan tidak membaik, semakin berat, atau disertai tanda bahaya seperti muntah darah dan buang air besar berwarna hitam.

“Sebagian besar pasien membaik dengan obat standar. Pemeriksaan endoskopi hanya dilakukan bila keluhan menetap atau sudah ada tanda komplikasi,” katanya.

Upaya Pencegahan GERD

Untuk mencegah GERD, dr. Andi menyarankan beberapa langkah sederhana, seperti menjaga berat badan ideal, menghindari rokok dan alkohol, mengatur pola makan dengan porsi kecil namun lebih sering, serta tidak langsung berbaring setelah makan.

“GERD itu bisa dicegah dan dikendalikan. Kuncinya ada pada perubahan gaya hidup,” tutupnya.