Ia menyampaikan sangat terbantu sekali dengan adanya program SIMURP, sehingga dalam beragribisnis bisa lebih lancar. Sebagai contohnya dalam pembuatan guludan dengan menggunakan cultivator plus RTH. Untuk penyiraman dengan menggunakan pompa diesel, dalam memanen dan memasarkan hasil, ada keranjang keranjang besar yang membuat cabe lebih tahan tidah mudah busuk.
Selain pembuatan gulutan, teknologi yang diterapkan kelompoknya antara lain penanggulangan jamur yang merugikan bagi tanaman cabai dengan menggunakan jamur tricoderma, dengan penggunaan tricoderma dapat meminimalisir adanya penyakit layu bakteri dan antraknosa, penggunaan Pupuk Organik yang lebih banyak untuk menghemat penggunaan pupuk kimia yang setahun terakhir naik sampai 2 kali lipat harganya. Disamping itu juga penggunaan varitas unggul, jelas Yusuf lagi.
Sedangkan untuk pemasaran cabai, sampai saat ini 95% kita masih menjual kepada pengirim atau pedagang yang mengirim cabai dari pengepul ke pasar, sedangkan sisanya 5% sudah bisa langsung menjual ke end user atau pemasaran menggunakan sistem mulut ke mulut setiap hari panen. Bersama-sama dengan kelompoknya, Yusuf sedang mencari peluang untuk bisa memasarkan secara langsung ke pasar, supermarket dan tempat tempat penjual sekala besar. Semoga kedepan keuntungan semakin tinggi, termasuk yang diolah dan diekspor, harapnya. (YT/NF)
2 Komentar