“Ini sudah ada hasilnya, contohnya, bukti nyatanya dan instrumennya untuk menaikkan provitas ini”, ungkap Bustanul

Bustanul menambahkan, instrumen apapun, apabila dalam pengembangan teknologi pertanian kalau ujung-ujungnya tidak meningkatkan provitas, tidak meningkatkan kesejahteraan petani berrati program tersebut perlu dievaluasi. Namun yang terjadi saat ini intrumen-instrumen CSA sudah diterapkan. Diantaranya dengan penerapan varietas terhadap kekeringan, bagaimana memperlakukan penggunaan pengelolaan air yang efisien dan ini sesuai dgn kondisi saat ini yaitu kondisi dimana kita akan menghadapi  El Nino. Yang puncaknya diperkirakan berlangsung Agustus hingga September dalam kondisi sedang dan moderat. Namun di Kabupaten Cirebon sudah menerapkan program CSA dan siap menghadapi El Nino, jelas Bustanul lagi.

“Program CSA dalam proyek Simurp ini telah mendapat apresiasi dari Bank Dunia, pasalnya dengan beberapa kegiatan mampu meningkatkan produksi, produktivitas dan kesejahteraan petani. Bahkan program tersebut bisa menjadi pembelajaran bagi semua negara dakam menghadapi perubahan iklim dan efek gas rumah kaca (GRK). Diperkirakan dari program CSA ini terjadi pengurangan efek GRK hampir mencapai 30 persen dengan pemanfaatan teknologi intermitten irigasi yakni pengairan bersela kering-basah,”katanya.