hainews.co.id – Penipuan digital hari ini tak lagi datang dengan ancaman keras atau nada kasar. Justru sebaliknya ia hadir dengan wajah yang ramah, bahasa yang rapi, dan kesan profesional. Jika dulu pesan penipuan mudah dikenali karena penuh tekanan dan intimidasi, kini polanya telah berevolusi secara signifikan.

Pelaku penipuan semakin lihai meniru gaya komunikasi institusi resmi. Kalimat seperti “ini dari tim pusat”, “data Anda sudah tercatat di sistem”, atau “kami hanya ingin membantu agar akun tetap aman” sering dijadikan pembuka percakapan. Nada yang tenang dan sopan ini bukan kebetulan, melainkan strategi yang dirancang untuk menurunkan kewaspadaan korban secara perlahan.

Alih-alih memicu rasa takut, penipu justru membangun rasa aman. Mereka menciptakan kesan seolah-olah korban sedang dibantu, bukan diancam. Dalam situasi seperti ini, banyak orang merespons secara refleks mengikuti arahan, mengeklik tautan, atau membagikan data pribadi tanpa sempat berpikir kritis atau melakukan pengecekan ulang.

Di sinilah kekuatan penipuan modern bekerja pada level psikologis. Pelaku memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap otoritas, kebiasaan birokratis, serta kekhawatiran akan kehilangan akses ke layanan digital yang digunakan sehari-hari. Dalam hitungan menit, korban bisa diarahkan untuk melakukan tindakan yang justru membuka celah kejahatan.

Masalahnya, proses “verifikasi” sering kali dilakukan ke sumber yang salah. Banyak korban merasa sudah berhati-hati karena melakukan pengecekan ulang, padahal pengecekan tersebut dilakukan melalui nomor yang sama atau tautan yang disediakan oleh pelaku. Pada titik ini, penipuan tak lagi sekadar soal kurangnya literasi digital, melainkan juga akibat ketiadaan alat bantu yang cepat, netral, dan tepercaya untuk memastikan kebenaran informasi.

Cek Dulu Sebelum Merespons

Di era digital saat ini, prinsip perlindungan diri bukan lagi soal percaya atau tidak, melainkan cek dulu sebelum merespons. Prinsip ini semakin penting di tengah maraknya penipuan berbasis rekayasa sosial yang mengeksploitasi emosi, kepanikan, dan rasa ingin tahu.

Untuk memperkuat perlindungan pengguna, layanan dompet digital DANA menghadirkan Jaminan Anti Penipuan melalui fitur Cek Risiko Penipuan (Scam Checker) yang tersedia di menu DANA Protection. Fitur ini dirancang sebagai pusat keamanan yang membantu pengguna mengantisipasi berbagai potensi penipuan digital yang mengatasnamakan DANA.

Melalui Scam Checker, pengguna dapat memeriksa keaslian nomor telepon, akun media sosial, tautan, hingga nomor rekening yang mengklaim berasal dari DANA. Cukup masukkan data yang mencurigakan, dan pengguna akan mendapatkan informasi apakah data tersebut benar-benar resmi atau justru berpotensi penipuan.

Di tengah kecanggihan modus kejahatan digital, kewaspadaan saja tidak cukup. Dengan kebiasaan mengecek sebelum merespons dan memanfaatkan fitur perlindungan yang tersedia, pengguna dapat mengambil kendali atas keamanan digitalnya sendiri.