hainews.co.id – Banyak orang menganggap mimpi buruk seperti monster bersembunyi di bawah tempat tidur hanya dialami oleh anak-anak. Sementara itu, orang dewasa sering kali bermimpi tentang hal-hal yang lebih “nyata”, mulai dari pekerjaan, tenggat waktu, hingga tekanan hidup sehari-hari.

Namun, benarkah isi mimpi benar-benar berubah seiring bertambahnya usia?

Kepala grup riset Sleep, Plasticity, and Conscious Experience (SPACE) di IMT School for Advanced Studies Lucca, Italia, Dr. Giulio Bernardi, menjelaskan bahwa mimpi sangat bergantung pada sistem saraf yang terlibat dalam imajinasi, ingatan, dan emosi.

“Semua sistem itu berkembang dan mengalami reorganisasi seiring bertambahnya usia,” ujar Bernardi, dikutip dari Live Science, Minggu (11/1/2026).

Meski demikian, ia menekankan bahwa penelitian yang secara sistematis meneliti perubahan mimpi sepanjang rentang kehidupan manusia masih sangat terbatas.

“Faktor-faktor ini menentukan bukan hanya seberapa jelas mimpi dihasilkan saat tidur, tetapi juga seberapa besar kemungkinan mimpi itu diingat ketika kita terbangun,” tambahnya.

Lantas, bagaimana sebenarnya perjalanan mimpi dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut?

Mimpi pada masa kanak-kanak

Penelitian klasik bertajuk “Children’s Dreaming and the Development of Consciousness” oleh David Foulkes, yang dilakukan pada 1970-an hingga 1990-an, menunjukkan bahwa mimpi anak-anak cenderung sederhana.

Mimpi tersebut sering berisi hewan, objek statis, serta interaksi yang tidak kompleks. Namun, penelitian tentang mimpi anak-anak memiliki tantangan tersendiri. Hasilnya sangat bergantung pada kemampuan anak memahami apa itu mimpi dan bagaimana mereka menceritakannya kembali kepada orang lain.

Mimpi saat remaja

Memasuki masa remaja, mimpi menjadi lebih sering, lebih jelas, dan lebih emosional. Hal ini sejalan dengan banyaknya perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang dialami pada fase tersebut.

Studi “The Content of Recurrent Dreams in Young Adolescents” (2016) menunjukkan bahwa remaja yang lebih muda kerap bermimpi tentang jatuh, dikejar, atau menghadapi monster dan hewan. Sementara itu, remaja yang lebih tua lebih sering melaporkan mimpi tentang stres sekolah dan hubungan sosial baru.

Mimpi di usia dewasa

Pada masa dewasa, isi mimpi umumnya menjadi lebih realistis dan membumi. Penelitian “The Typical Dreams in the Life Cycle” (2020) menemukan bahwa orang dewasa sering bermimpi terlambat datang ke suatu tempat atau berulang kali gagal melakukan sesuatu.

Mimpi aneh dan mimpi buruk memang masih muncul, tetapi unsur agresi yang dominan pada masa remaja mulai berkurang. Kompleksitas mimpi lebih banyak mencerminkan pengalaman dan tekanan kehidupan nyata.

Mimpi pada usia lanjut

Ketika memasuki usia lanjut, frekuensi mimpi yang diingat cenderung menurun. Studi “Spotlight on Dream Recall: The Ages of Dreams” (2018) menunjukkan bahwa lansia lebih jarang melaporkan mimpi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Penelitian lain menemukan fenomena yang disebut “mimpi putih”, yakni kondisi ketika seseorang merasa telah bermimpi, tetapi tidak dapat mengingat isi mimpi tersebut secara jelas.

Peran kualitas tidur dan ingatan

Penurunan kualitas tidur yang sering dialami lansia menjadi salah satu faktor berkurangnya ingatan mimpi. Namun, para ahli menilai bahwa perubahan mimpi di semua usia sangat berkaitan dengan kemampuan manusia mengingat dan menceritakan pengalaman tidur.

Michael Schredl, Kepala Riset di Sleep Laboratory, Central Institute of Mental Health, Heidelberg University, Jerman, menjelaskan bahwa mimpi pada dasarnya adalah pengalaman subjektif.

“Yang kita dapatkan hanyalah mimpi atau laporan mimpi, yaitu ingatan akan pengalaman yang terjadi selama tidur,” ujarnya.

Dengan kata lain, mimpi bukan hanya tentang apa yang terjadi saat kita terlelap, tetapi juga tentang bagaimana otak mengolah, menyimpan, dan mengingat pengalaman tersebut. Seiring bertambahnya usia, perubahan pada otak dan kehidupan nyata pun ikut membentuk cerita-cerita yang hadir dalam mimpi kita.