Oleh karena itu, sambungnya, harus selalu ada pesan bahwa di era yang serba digital ini perlu menanamkan kecintaan anak akan budaya atau sejarah bangsa lewat film yang dikemas secara menarik.

“kita menghadapi anak-anak dalam era digital dalam era global, bagaimana anak-anak memiliki eksistensi dan memelihara budaya kita, artinya kita beradaptasi akan globalisasi, tapi tetap memiliki eksistensi budaya kita, jadi bagaimana ini menarik, fun, lucu, dialog yang menarik dengan bahasa anak dan dialek kedaerahan, bikin se-Indonesia, bikin yang orisinil, karena yang orisinil itu menarik, maka pemainnya cari anak-anak daerah,” tandasnya.

Lebih lanjut, selain dikemas menarik untuk anak-anak, Romo Benny menekankan film pendek dan video animasi yang dibuat harus membawa narasi yang dikaitkan dengan tantangan zaman, seperti krisis pangan, krisis lingkungan hidup dan krisis finansial.

“Aktor-aktor harus mampu membuat visi Indonesia kedepan yang dikaitkan dengan tantangan kita kedepan, seperti krisis global, maka seperti yang dikatakan Bung Karno, anak-anak harus mencintai dunia pertanian, jadi misalnya anak-anak diajak agar suka berkebun,” katanya.