Kecepatan angin dapat dipicu oleh faktor cuaca maupun kebakaran itu sendiri.
Kecepatan angin yang kencang dari kebakaran atau faktor cuaca di sekitarnya menciptakan gradien tekanan udara yang memperkuat perputaran api.
Fire whirl di Gunung Bromo menjadi sulit dipadamkan karena kombinasi dari beberapa kondisi ini.
Udara panas dari sumber kebakaran naik dan berputar membentuk kolom udara hingga ke ketinggian tertentu.
Hal ini menyebabkan api yang terbentuk dapat menyebar dengan cepat dan luas, sehingga mempersulit proses pemadaman.
Kebakaran lahan di Gunung Bromo diduga dipicu oleh percikan api dari flare yang digunakan oleh pengunjung untuk foto prewedding.
Api kemudian menyebar dengan cepat dan sulit untuk dipadamkan.
Peristiwa pusaran api seperti tornado ini terjadi pada Minggu (10/9) ketika angin sangat kencang.
Seorang relawan bernama Sismiko melaporkan adanya tornado api saat itu.
Fenomena api, fire whirl di Gunung Bromo menjadi perhatian publik karena kejadian ini jarang terjadi dan memiliki potensi bahaya.
2 Komentar