Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim mengemukakan, pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri.

“Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu?” Ismail menjawab: “Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffat: 102).

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah, setan menggoda Ibrahim agar membatalkan niatnya mengurbankan Ismail. Nabi Ibrahim pun mengambil batu, lalu mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar,”, dan batu itu dilemparkan kepada setan. Kini seluruh jamaah haji mengikuti apa yang dulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim dalam mengusir setan dengan melempar batu sambil mengatakan, “Bismillahi Allahu akbar”. Hal ini menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah.