Fenomena api berputar seperti tornado terjadi di Gunung Bromo.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kejadian ini sebagai fire whirl yang merupakan fenomena meteorologi jarang terjadi namun cukup membahayakan.
Fire whirl dapat merusak dan sulit diprediksi kejadiannya. Fire whirl terbentuk dalam kondisi panas ekstrem dan ketidakstabilan atmosfer.
Menurut Plt Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, fire whirl umumnya terjadi saat terjadi kebakaran atau adanya api besar yang memicu peningkatan suhu udara secara spontan. Saat terjadi pembakaran, udara panas naik dengan cepat.
Selain itu, atmosfer yang labil juga menjadi faktor penting dalam terjadinya fire whirl.
Atmosfer yang labil memungkinkan terjadinya pengangkatan udara panas atau api besar yang naik ke atas.
Hal ini menyebabkan penurunan tekanan di permukaan dan udara dingin di sekitarnya tertarik untuk mengisi ruang kosong yang terbentuk.
Andri juga menjelaskan bahwa angin kencang menjadi pemicu pergerakan api.
2 Komentar