hainews.co.id – Dinas Kesehatan Kota Bandung menargetkan cakupan vaksinasi human papillomavirus (HPV) mencapai 97 persen untuk meningkatkan perlindungan perempuan terhadap risiko kanker serviks. Hingga saat ini, cakupan vaksinasi diklaim telah mencapai 90 persen, dengan sasaran utama program pemerintah adalah anak perempuan usia sekolah dasar, khususnya siswi kelas V.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Sony Adam, mengatakan pemerintah terus mendorong perluasan vaksinasi HPV agar semakin banyak perempuan mendapatkan perlindungan sejak dini.

“Targetnya 97 persen warga Kota Bandung, khususnya perempuannya, tervaksinasi HPV,” kata Sony saat ditemui dalam kegiatan vaksinasi HPV di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kamis (13/3/2026).

Untuk sasaran siswi kelas V SD, Dinkes Kota Bandung menargetkan sebanyak 16.000 anak mendapatkan vaksinasi.

“16.000 vaksin untuk sasaran 100 persennya buat anak di kelas V SD,” ujarnya.

Menurut Sony, vaksinasi HPV merupakan salah satu langkah pencegahan kanker serviks yang berisiko mengancam jiwa. Karena itu, perluasan akses vaksinasi menjadi penting, tidak hanya melalui program pemerintah di sekolah, tetapi juga dengan melibatkan perguruan tinggi dan berbagai organisasi.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kerja sama Dinkes Kota Bandung dengan UPI yang menghadirkan program vaksinasi HPV bersubsidi bagi masyarakat umum.

Sony mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut karena kuota vaksinasi masih tersedia.

“Sampai sekarang baru terdaftar 400 ini, sisanya 600 lagi bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar UPI ini dan masyarakat luas yang lainnya,” katanya.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi UPI, Prof. Dr. Tri Indri Hardi, mengatakan pihaknya menyiapkan vaksin untuk maksimal 1.000 peserta dengan dukungan subsidi dari Korpri Pusat.

Hingga pelaksanaan kegiatan, sekitar 400 peserta telah terdaftar, termasuk masyarakat yang mendaftar langsung di lokasi. UPI masih membuka pendaftaran untuk memenuhi kuota yang tersedia.

Harga vaksin bersubsidi ditetapkan sebesar Rp290 ribu per dosis, jauh lebih rendah dibandingkan harga normal yang disebut mencapai Rp1,2 juta per dosis.

Tri menjelaskan, kegiatan vaksinasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis UPI ke-72. Program ini menyasar dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta masyarakat di sekitar kampus.

“Dalam rangka Dies Natalis UPI ke-72, salah satu kegiatannya adalah vaksinasi HPV bagi dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, juga masyarakat sekitar UPI. Karena ternyata vaksin HPV ini sangat bermanfaat, terutama bagi perempuan. Memang untuk acara kali ini kita fokus hanya untuk perempuan,” katanya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi dan edukasi pada 6 Oktober. Peserta kemudian menjalani vaksinasi dosis pertama, sedangkan dosis kedua dijadwalkan pada Januari dan dosis ketiga pada April.

Menurut Tri, edukasi menjadi bagian penting dalam program tersebut untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat vaksin HPV sekaligus menjawab keraguan sebagian calon peserta terhadap vaksinasi.

Ketua Vaksinasi Nasional Dewan Pengurus KORPRI Nasional, dr. Hariyadi Wibowo, turut menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi dan pencegahan infeksi HPV yang berkaitan dengan kanker serviks.

Ia mengingatkan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai bagian dari upaya deteksi dini berbagai masalah kesehatan.

“Makanya gunanya CKG, cek kesehatan gratis, itu segera dipakai karena ternyata cakupannya rendah. Kalau cakupan rendah berarti orang itu harus sadar diri. Paling enggak tensi nadi,” katanya.

Selain pemeriksaan rutin, Hariyadi mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat, termasuk menghindari kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol serta rutin melakukan aktivitas fisik, seperti berjalan kaki dan jogging.

Sementara itu, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Nanny Hadi Tjahjanto, mengatakan edukasi kesehatan perempuan menjadi perhatian organisasinya, terutama karena kanker serviks dan kanker payudara masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu diantisipasi.

“Kita ketahui bahwa yang namanya kanker, mulai dari kanker serviks dan juga kanker payudara, Indonesia masih dibilang tinggi. KOWANI sangat konsen untuk kesehatan ini,” ujarnya.

KOWANI berharap kolaborasi dengan UPI dan berbagai organisasi lainnya dapat memperluas jangkauan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Organisasi tersebut juga berencana membentuk komunitas perempuan di kalangan mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan, khususnya bagi perempuan usia muda.

Melalui perluasan vaksinasi, edukasi, dan pemeriksaan kesehatan berkala, berbagai pihak berharap semakin banyak perempuan memperoleh akses terhadap upaya pencegahan kanker serviks sejak dini.