hainews.co.id – Di tengah kehidupan yang semakin terhubung secara digital, banyak orang merasa sulit lepas dari ponsel. Notifikasi media sosial, pesan instan, hingga berbagai aplikasi hiburan membuat sebagian orang terus-menerus memeriksa layar perangkat mereka.

Melansir Real Simple, beberapa laporan bahkan menyebutkan bahwa seseorang dapat memeriksa ponselnya sekitar 205 kali dalam sehari dan menghabiskan sekitar 35 jam per minggu menatap layar.

Direktur klinis Serenium Therapy and Wellness, Allison Devlin, mengatakan bahwa membuat batasan dalam penggunaan teknologi dapat membantu meningkatkan kesehatan mental.

“Menetapkan lebih banyak batasan dalam penggunaan teknologi dapat membantu seseorang merasa lebih baik secara mental dan emosional,” ujarnya dikutip dari Real Simple, Kamis (12/3/2026).

Karena itu, sebagian orang mulai mencoba melakukan digital detox, yaitu mengurangi penggunaan perangkat digital untuk sementara waktu.

Mematikan internet di ponsel

Salah satu cara sederhana yang diteliti adalah dengan mematikan akses internet di ponsel.

Dalam sebuah penelitian, sebanyak 467 partisipan diminta mematikan internet di ponsel mereka selama dua minggu melalui sebuah aplikasi. Meski hanya sekitar 25 persen peserta yang benar-benar berhasil mematikan internet sepenuhnya selama periode penelitian, mayoritas peserta tetap merasakan manfaat.

Secara keseluruhan, 91 persen partisipan melaporkan setidaknya satu perubahan positif pada kesejahteraan emosional, kemampuan fokus, atau kesehatan mental mereka.

Peneliti menilai bahwa dengan mematikan internet, seseorang masih bisa menggunakan ponsel untuk fungsi dasar seperti telepon atau pesan, tetapi tidak lagi terpapar berbagai fitur yang sering memicu kebiasaan scrolling tanpa henti.

Manfaat digital detox bagi kesehatan mental

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan media sosial dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental.

Sebuah studi pada November 2025 menemukan bahwa melakukan detoks media sosial selama satu minggu dapat menurunkan gejala kecemasan hingga 16,1 persen, depresi 24,8 persen, serta insomnia 14,5 persen.

Para peneliti menilai bahwa kebiasaan yang membuat seseorang sulit lepas dari ponsel biasanya bukan karena panggilan atau pesan, melainkan berbagai fitur yang dirancang untuk menarik perhatian, seperti media sosial, gim, atau notifikasi.

Fitur-fitur tersebut dapat memicu rangsangan dopamin di otak yang membuat seseorang terdorong untuk terus membuka ponsel.

Cara sederhana melakukan digital detox

Pekerja sosial klinis berlisensi sekaligus pakar hubungan, Jennifer Kelman, mengatakan bahwa ketika seseorang mengurangi keterhubungan digital, mereka sering menemukan kembali hubungan sosial yang lebih nyata.

Hal ini juga dapat membantu mengurangi stres, kecemasan, serta meningkatkan kualitas tidur.

Kelman menyarankan beberapa cara sederhana untuk memulai digital detox, seperti membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari atau menetapkan hari tertentu sebagai waktu tanpa gawai.

Misalnya, seseorang dapat membuat aturan hanya membuka media sosial pada jam tertentu atau menjadikan akhir pekan sebagai waktu untuk mengurangi penggunaan ponsel.

Menurutnya, meski pada awalnya terasa sulit, banyak orang akhirnya merasakan kebebasan yang sebelumnya tidak mereka sadari ketika mulai mengurangi penggunaan ponsel.

Karena itu, mencoba mengurangi penggunaan internet di ponsel, meski hanya dalam waktu tertentu setiap hari, dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan aktivitas di dunia nyata.