hainews.co.id – Banyak orangtua merasa kesulitan menolak permintaan anak, terutama ketika keinginan tersebut berkaitan dengan barang yang sedang populer di lingkungan pertemanan atau media sosial. Tidak sedikit pula yang memilih langsung mengabulkan permintaan anak demi menghindari rengekan, tangisan, atau rasa kasihan.

Namun, psikolog anak dan keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengingatkan bahwa kebiasaan selalu memenuhi keinginan anak dapat membawa dampak negatif terhadap perkembangan psikologis mereka dalam jangka panjang.

Menurut Vera, anak perlu belajar memahami batasan serta mengelola keinginan sejak usia dini. Jika setiap permintaan selalu dipenuhi, anak berisiko tumbuh tanpa kemampuan mengendalikan diri yang memadai.

“Anak dapat kesulitan belajar mengelola keinginan dan menunda kepuasan,” ujar Vera.

Vera menjelaskan, proses menunggu dan memahami bahwa tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi merupakan bagian penting dalam perkembangan emosional anak.

Melalui pengalaman tersebut, anak belajar bersabar, mengendalikan emosi, serta memahami konsep prioritas. Mereka juga belajar bahwa dalam kehidupan nyata tidak semua hal dapat diperoleh secara instan.

Sebaliknya, jika seluruh keinginan selalu dipenuhi, anak dapat terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan tanpa usaha atau proses. Akibatnya, mereka berpotensi mengalami kesulitan ketika menghadapi penolakan, kegagalan, atau situasi yang tidak sesuai dengan harapan.

Kemampuan menghadapi kekecewaan ini menjadi bekal penting bagi anak saat berinteraksi di lingkungan sekolah, pergaulan sosial, hingga ketika memasuki dunia kerja di masa depan.

Selain memengaruhi kemampuan mengendalikan diri, kebiasaan selalu menuruti keinginan anak juga dapat membentuk pola pikir konsumtif.

Menurut Vera, anak bisa mengembangkan anggapan bahwa kebahagiaan dan kepuasan selalu berkaitan dengan kepemilikan barang. Pola pikir seperti ini membuat mereka lebih mudah terpengaruh oleh tren yang berkembang di lingkungan sekitar.

Ketika melihat teman memiliki mainan baru, gawai terbaru, atau barang yang sedang viral di media sosial, anak cenderung merasa harus memiliki barang yang sama agar tidak merasa tertinggal.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat anak lebih rentan terhadap tekanan sosial dan kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Vera juga mengingatkan pentingnya membangun rasa percaya diri anak dari kemampuan dan karakter yang dimiliki, bukan dari barang yang mereka miliki.

Menurutnya, jika anak terbiasa mendapatkan pengakuan atau merasa diterima karena memiliki barang tertentu, mereka dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai diri ditentukan oleh kepemilikan materi.

Padahal, rasa percaya diri yang sehat seharusnya dibangun melalui pengalaman, usaha, kemampuan, prestasi, serta sikap positif yang dimiliki anak.

“Anak bisa menjadi kurang mampu membangun rasa percaya diri yang bersumber dari kemampuan, karakter, atau pencapaiannya sendiri,” kata Vera.

Vera menegaskan bahwa tidak selalu menuruti permintaan anak bukan berarti orangtua tidak menyayangi mereka. Justru, memberikan batasan yang jelas merupakan salah satu bentuk pengasuhan yang sehat.

Saat anak menginginkan sesuatu, orangtua dapat mengajak mereka berdiskusi mengenai alasan di balik keinginan tersebut, manfaat barang yang diminta, serta membantu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Pendekatan ini dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan sejak dini.

Selain itu, orangtua juga perlu menjadi contoh dalam mengelola keinginan dan kebiasaan berbelanja. Anak cenderung belajar dari perilaku yang mereka lihat setiap hari di rumah.

Jika orangtua mampu menunjukkan sikap bijak dalam menyikapi tren dan tidak mudah membeli sesuatu hanya karena sedang populer, anak pun akan lebih mudah mengembangkan kebiasaan yang sama.

Pada akhirnya, tujuan utama pengasuhan bukanlah memenuhi seluruh keinginan anak, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengendalikan diri, memahami prioritas, serta memiliki rasa percaya diri yang tidak bergantung pada kepemilikan barang.

Dengan memberikan batasan yang tepat dan mengajarkan nilai kesabaran sejak dini, orangtua dapat membantu anak membangun karakter yang lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan.