hainews.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer terkini menunjukkan peningkatan intensitas hujan, khususnya di wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
“Pada pekan ini terjadi gangguan cuaca berupa pertemuan massa udara di atas Pulau Jawa yang dikenal sebagai Intertropical Convergence Zone (ITCZ),” ujar Ardhasena kepada media, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, fenomena ITCZ umum terjadi pada periode Desember hingga Februari, terutama di wilayah selatan Indonesia, dan berperan besar dalam meningkatkan curah hujan. Dampaknya, hujan dengan durasi panjang terjadi hampir tanpa jeda di sejumlah wilayah.
Selain hujan berhari-hari, BMKG juga mencatat adanya penurunan suhu udara, terutama di kawasan selatan Indonesia yang meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Terkait puncak musim hujan, Ardhasena menyebut sebagian besar wilayah Jawa telah memasuki periode tersebut. “Januari merupakan puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Jawa,” katanya. Sementara itu, sebagian wilayah Bali, NTB, dan NTT diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Februari 2026.
Ia menambahkan, keberadaan ITCZ menjadi salah satu indikator utama puncak musim hujan karena memicu peningkatan intensitas dan frekuensi hujan. Oleh sebab itu, masyarakat di wilayah terdampak diminta mewaspadai risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Imbauan serupa disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani. Ia meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem.
“Dinamika atmosfer saat ini menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia. Dengan kesiapsiagaan yang baik dan terus memantau informasi resmi dari BMKG, risiko bencana dapat diminimalisir,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/1/2026).
Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca ekstrem juga dipengaruhi oleh kemunculan Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia. Sistem tersebut memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot atau 28 kilometer per jam dengan tekanan udara minimum 1001 hPa.
Menurut Andri, pergerakan Bibit Siklon Tropis 97S ke arah barat berpotensi memperkuat pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga wilayah Nusa Tenggara. Kondisi ini meningkatkan pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Selain itu, penguatan Monsun Asia hingga 23 Januari 2026 yang disertai seruakan udara dingin (cold surge) dari daratan Asia turut memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan secara luas di selatan khatulistiwa. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin yang didukung nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif juga memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus.
BMKG menilai, kondisi tersebut semakin diperkuat oleh tingginya kelembapan udara di lapisan bawah hingga menengah atmosfer serta labilitas atmosfer yang kuat, sehingga meningkatkan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
BMKG memprakirakan hujan lebat disertai kilat dan angin kencang berpeluang terjadi secara bergantian hingga akhir Januari 2026, dengan wilayah terdampak antara lain Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang, seiring dinamika cuaca yang masih terus berkembang.


4 Komentar