hainews.co.id – Obat berbahan alam, produk herbal, atau jamu telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Banyak orang tua memilih pengobatan alami untuk membantu menjaga kesehatan maupun meredakan berbagai keluhan pada anak karena dianggap lebih aman, mudah diperoleh, dan relatif terjangkau.

Meski demikian, penggunaan obat herbal pada anak tidak boleh dilakukan sembarangan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan bahwa tidak semua bahan alami aman dikonsumsi oleh anak. Beberapa jenis herbal memiliki batasan usia, kondisi kesehatan tertentu, hingga potensi interaksi dengan obat-obatan yang sedang dikonsumsi.

Kapan Anak Boleh Mengonsumsi Obat Herbal?

Secara umum, BPOM menyebutkan bahwa obat bahan alam atau jamu dapat mulai diberikan setelah anak berusia 6 bulan, yaitu ketika bayi sudah mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI).

Sementara itu, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar bayi berusia di bawah 6 bulan hanya mendapatkan ASI atau susu formula. Pada usia tersebut, sistem pencernaan bayi masih berkembang sehingga belum siap menerima makanan, minuman, maupun obat berbahan alami.

Pemberian herbal yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai risiko, seperti:

  • Reaksi alergi.
  • Gangguan saluran cerna.
  • Infeksi.
  • Kejang.
  • Keracunan akibat kandungan logam berat, seperti merkuri atau timbal pada produk yang tidak memenuhi standar keamanan.
  • Interaksi dengan obat resep yang sedang dikonsumsi anak.

Selain itu, bagi bayi yang masih menyusu, ibu juga perlu memperhatikan keamanan produk herbal yang dikonsumsinya karena beberapa kandungan dapat memengaruhi bayi melalui ASI.

Jenis Obat Herbal yang Perlu Diperhatikan

1. Ginkgo biloba

Ginkgo biloba merupakan tanaman herbal yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Produk ini tersedia dalam berbagai bentuk, seperti teh, kapsul, bubuk, maupun ekstrak cair.

Sejumlah penelitian menunjukkan ginkgo biloba berpotensi membantu meningkatkan fungsi kognitif, memperlancar aliran darah, mengurangi kecemasan, serta memiliki sifat antioksidan. Beberapa penelitian juga mengaitkannya dengan perbaikan gejala ADHD, migrain, hingga kesehatan jantung. Namun, sebagian besar manfaat tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.

BPOM tidak menganjurkan penggunaan ginkgo biloba pada anak berusia di bawah 12 tahun, ibu hamil, maupun ibu menyusui.

Selain itu, ginkgo biloba tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat pengencer darah, seperti warfarin, heparin, atau aspirin karena dapat meningkatkan risiko perdarahan. Penggunaannya juga tidak dianjurkan lebih dari empat minggu dan sebaiknya dihentikan dua minggu sebelum menjalani operasi.

Efek samping yang dapat muncul antara lain gangguan pencernaan, sakit kepala, alergi kulit, hingga perdarahan seperti mimisan atau memar di bawah kulit.

2. Madu

Madu dikenal memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan anak. Kandungan glukosa dan fruktosa di dalamnya dapat menjadi sumber energi, sementara vitamin, mineral, enzim, asam amino, dan antioksidan membantu mendukung pertumbuhan serta daya tahan tubuh.

Selain itu, madu memiliki sifat antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan yang dapat membantu mempercepat penyembuhan luka serta mengurangi risiko infeksi. Sejumlah penelitian juga menunjukkan madu dapat membantu meredakan batuk, sakit tenggorokan, dan hidung tersumbat.

Meski demikian, madu tidak boleh diberikan kepada anak berusia di bawah 1 tahun karena berisiko menyebabkan botulisme, yaitu infeksi serius yang dapat membahayakan bayi.

Anak yang memiliki riwayat alergi terhadap produk lebah juga perlu berhati-hati sebelum mengonsumsi madu.

3. Herbal yang Mengandung Kafein

Beberapa produk herbal ternyata mengandung kafein, seperti teh hitam, teh hijau, kopi seduhan, kopi instan, espresso, hingga cokelat hitam.

BPOM tidak menganjurkan konsumsi herbal berkafein untuk anak-anak karena dapat memengaruhi sistem saraf, kualitas tidur, serta detak jantung. Produk ini juga tidak dianjurkan bagi ibu hamil dan ibu menyusui.

Penderita hipertensi maupun diabetes juga perlu berhati-hati dalam mengonsumsi produk berkafein serta tidak melebihi aturan penggunaan yang dianjurkan.

4. Jahe

Jahe merupakan salah satu bahan alami yang sering digunakan untuk membantu mengatasi mual, masuk angin, maupun keluhan pencernaan.

Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang cukup mengenai keamanan dan efektivitas penggunaan jahe pada anak. Oleh karena itu, BPOM menyarankan agar penggunaan jahe pada anak dilakukan secara hati-hati dan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah rasa panas di ulu hati, ketidaknyamanan lambung, dan diare, terutama bila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.

Tips Aman Memilih Obat Herbal untuk Anak

Sebelum memberikan obat berbahan alami kepada anak, orang tua sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Lakukan Cek KLIK, yaitu memastikan Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa produk.
  • Pastikan jamu segar atau jamu gendong dibuat dengan bahan dan peralatan yang bersih serta higienis.
  • Hentikan penggunaan apabila muncul efek samping, seperti alergi, mual, muntah, atau diare.
  • Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter apabila anak memiliki penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat resep.

Kesimpulan

Obat herbal dapat menjadi pilihan pendamping untuk menjaga kesehatan anak apabila digunakan secara tepat. Namun, anggapan bahwa semua bahan alami pasti aman tidak sepenuhnya benar. Setiap produk herbal memiliki aturan penggunaan, batasan usia, serta potensi efek samping yang perlu diperhatikan.

Orang tua disarankan memilih produk yang telah memiliki izin edar resmi, mengikuti dosis yang dianjurkan, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memberikan obat herbal kepada anak, terutama jika anak masih berusia sangat muda atau memiliki kondisi medis tertentu. Dengan penggunaan yang bijak, manfaat obat berbahan alam dapat diperoleh tanpa mengabaikan aspek keamanan bagi kesehatan anak.