hainews.co.id- Mantan atlet panjat tebing Indonesia, Puji Lestari, kembali mencuri perhatian. Setelah menorehkan prestasi di arena olahraga, Puji kini melanjutkan perjalanan ke dunia akademik dengan menempuh pendidikan doktoral melalui beasiswa LPDP.

Kabar tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet tidak harus berhenti setelah meninggalkan arena pertandingan. Puji membuktikan bahwa prestasi olahraga dapat berjalan beriringan dengan pendidikan dan pengembangan diri.

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada Juli 2026 menyebut Puji sebagai salah satu olahragawan yang menerima Beasiswa LPDP. Ia dinilai menjadi contoh penting mengenai upaya menyeimbangkan prestasi olahraga dengan pendidikan sebagai bekal masa depan.

Nama Puji Lestari dikenal luas setelah tampil bersama tim panjat tebing Indonesia di Asian Games 2018. Dalam nomor speed putri, Puji meraih medali perak setelah berhadapan dengan rekan senegaranya, Aries Susanti Rahayu, di final.

Pertandingan tersebut menciptakan all-Indonesian final. Aries kemudian meraih emas, sedangkan Puji membawa pulang perak untuk Indonesia. Federasi Panjat Tebing Indonesia mencatat Aries mengalahkan Puji dengan catatan waktu 7,61 detik berbanding 7,98 detik.

Puji juga turut mempersembahkan medali emas untuk Indonesia pada nomor speed relay putri. Catatan prestasinya tersebut membuat perjalanan Puji menjadi salah satu bagian penting dari kesuksesan panjat tebing Indonesia di Asian Games 2018.

Puji Lestari lahir di Jakarta pada 15 Juni 1990. Ketertarikannya terhadap panjat tebing bermula dari aktivitasnya di kelompok pencinta alam ketika masih bersekolah.

Namun, ia mulai menekuni olahraga tersebut secara lebih serius setelah memasuki perguruan tinggi. Puji tercatat sebagai lulusan Universitas Negeri Jakarta dan menggeluti panjat tebing sejak 2009 ketika berkuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan.

Kariernya kemudian berkembang hingga tampil di berbagai kompetisi internasional. Pada Asian Championship di Teheran, Iran, pada 2017, Puji berhasil meraih dua medali emas pada nomor speed. Ia juga pernah meraih medali perunggu dalam IFSC World Cup di Chongqing, China, pada 2018.

Setelah perjalanan panjang sebagai atlet, Puji kini mengambil langkah baru melalui pendidikan doktoral.

Beasiswa LPDP yang diterimanya menjadi kesempatan untuk melanjutkan pengembangan diri di luar arena olahraga. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa karier atlet dapat memiliki kesinambungan setelah masa kompetisi berakhir.

Bagi atlet profesional, pendidikan menjadi salah satu aspek penting yang dapat membantu mempersiapkan masa depan. Karier olahraga memiliki masa produktif yang terbatas sehingga kemampuan akademik dan keterampilan lain dapat menjadi bekal ketika seorang atlet tidak lagi aktif bertanding.

Perjalanan Puji memberikan gambaran bahwa prestasi di bidang olahraga dan pendidikan dapat berjalan beriringan. Pengalaman sebagai atlet juga dapat menjadi modal untuk menghadapi tantangan akademik, seperti kedisiplinan, konsistensi, kemampuan menetapkan target, dan ketahanan menghadapi tekanan.

Kisah tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi atlet muda Indonesia agar tidak mengesampingkan pendidikan ketika sedang mengejar prestasi di arena pertandingan.

Keberhasilan Puji meraih beasiswa LPDP juga memperlihatkan bahwa peluang pengembangan karier bagi atlet tidak berhenti pada pencapaian medali.

Dari dinding panjat yang pernah menjadi arena perjuangannya, Puji kini melanjutkan tantangan di ruang akademik. Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa prestasi seorang atlet dapat menjadi awal dari perjalanan baru, bukan akhir dari sebuah karier.