hainews.co.id – Metode perkuatan struktur, layaknya retrofit dan refurbishment biasanya menjadi solusi andalan ketika bangunan mulai menampakkan tanda-tanda penurunan kondisi atau ketika bangunan ingin dialihfungsikan. Pasalnya apabila dibandingkan dengan melakukan pembongkaran, kedua metode tersebut dinilai sudah cukup dan sesuai dengan kebutuhan bangunan.
Membahas soal perkuatan dan perbaikan struktur, meski metode retrofit dan refurbishment sama-sama dilakukan untuk meningkatkan kondisi bangunan, tetapi fokusnya cenderung berbeda. Dalam penentuan metodenya pun, kebutuhan bangunan harus menjadi pertimbangan utama agar hasilnya tepat sasaran.
Artikel ini akan membahas tentang perbedaan dari retrofit dan refurbishment agar Anda bisa menentukan metode yang tepat untuk perbaikan bangunan. Simak pembahasannya selengkapnya berikut.
Retrofit vs Refurbishment, Apa yang Membedakannya?
Ketika bangunan mulai mengalami penurunan kualitas, perbaikannya tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang sama, alih-alih Anda harus menyesuaikan dengan kondisi bangunan. Metode perbaikan dan perkuatan struktur seperti retrofit dan refurbishment bisa menjadi solusi, namun patut diketahui bahwa keduanya memiliki fokus hingga tujuan yang berbeda.
Simak poin-poin perbedaan ini agar metode yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan bangunan.
-
Perbedaan Fokus
Fokus menjadi pembeda utama dari dua metode ini. Retrofit lebih berfokus untuk meningkatkan performa bangunan. Metode ini biasanya dipilih saat bangunan perlu memenuhi kebutuhan atau standar yang lebih tinggi, misalnya peningkatan kapasitas struktur.
Sementara refurbishment memiliki fokus untuk memulihkan kondisi dan fungsi bangunan agar kembali layak digunakan. Pekerjaannya mencakup perbaikan bagian bangunan yang memang mengalami kerusakan hingga penggantian material yang sudah buruk kualitasnya.
-
Perbedaan Tujuan
Perbedaan berikutnya terletak pada tujuan. Metode retrofit bertujuan membuat bangunan mampu memenuhi tuntutan baru. Misalnya, bangunan lama yang perlu disesuaikan karena adanya perubahan fungsi hingga terdapatnya standar keselamatan yang lebih ketat.
Lalu berbeda dari itu, refurbishment punya tujuan untuk mengembalikan kondisi bangunan agar fungsi awalnya dapat berjalan dengan baik. Contohnya, memperbaiki beton yang rusak hingga mengganti material yang sudah aus.
-
Perbedaan Lingkup
Refurbishment umumnya lebih banyak menyentuh aspek non-struktural, seperti fasad, finishing, maupun sistem utilitas. Sementara itu, retrofit memiliki lingkup yang lebih luas, termasuk pada elemen struktural untuk meningkatkan kapasitas dan ketahanan bangunan.
-
Perbedaan Langkah Perbaikan
Metode perbaikannya juga dapat berbeda. Salah satu perbaikan dengan metode retrofit dapat dilakukan melalui jacketing, yaitu penambahan lapisan atau elemen penguat pada kolom maupun balok untuk meningkatkan kapasitas.
Sementara itu, concrete repair seperti injeksi dan patching pada refurbishment lebih umum digunakan untuk memperbaiki beton yang mengalami kerusakan agar kondisi dan fungsinya kembali optimal.
Kapan Bangunan Membutuhkan Retrofit dan Refurbishment?
Permasalahan pada bangunan umumnya beragam dan tindakan perbaikannya pun sebaiknya tidak disamaratakan. Memilih metode perkuatan struktur antara retrofit dan refurbishment tidak dianjurkan dengan cara menerka-nerka. Kondisi material, perubahan fungsi, hingga kebutuhan peningkatan performa juga perlu menjadi pertimbangan.
Beberapa kondisi berikut dapat menjadi tanda bahwa bangunan sudah membutuhkan salah satu dari kedua metode perbaikan tersebut.
-
Ketika Material Mulai Mengalami Penurunan Kondisi
Seiring bertambahnya usia bangunan, beberapa material dapat mengalami penurunan kualitas akibat kelembapan, perubahan suhu, maupun paparan lingkungan. Kondisi seperti beton yang retak, permukaan yang terkelupas, atau elemen bangunan yang mulai aus perlu segera dievaluasi.
Refurbishment dapat dipilih untuk mengembalikan kondisi elemen yang mengalami kerusakan tersebut agar bangunan tetap nyaman dan layak digunakan.
-
Saat Ada Perubahan Beban atau Fungsi Bangunan
Perubahan fungsi bangunan dapat membuat kebutuhan terhadap kapasitas dan ketahanan struktur ikut berubah. Misalnya, bangunan yang awalnya digunakan sebagai kantor kemudian akan diubah menjadi area dengan aktivitas dan beban yang lebih besar.
Dalam kondisi seperti ini, metode retrofit diperlukan untuk menyesuaikan kemampuan bangunan terhadap beban baru. Evaluasi menyeluruh penting dilakukan agar perubahan fungsi tidak mengganggu keamanan dan kinerja struktur.
-
Saat Performa Struktur Perlu Ditingkatkan
Retrofit juga dapat dipertimbangkan ketika bangunan masih dapat digunakan, tetapi performanya perlu ditingkatkan untuk memenuhi tuntutan tertentu. Misalnya, struktur perlu memiliki kapasitas lebih tinggi atau tingkat ketahanan yang lebih baik terhadap kondisi lingkungan tertentu.
Pilih Metode Perbaikan dan Produk sesuai Kondisi Bangunan
Retrofit dan refurbishment dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kondisi bangunan tanpa harus selalu melakukan pembongkaran dan pembangunan ulang. Oleh karena keduanya memiliki fokus dan lingkup pekerjaan yang berbeda, pemilihannya perlu disesuaikan dengan kondisi material, fungsi, serta performa bangunan yang ingin dicapai.
Sebelum menentukan metode perbaikan, lakukan evaluasi secara menyeluruh untuk mengetahui kebutuhan bangunan. Dengan perencanaan dan metode perbaikan yang sesuai, bangunan dapat kembali berfungsi dengan baik sekaligus memiliki performa yang lebih optimal untuk jangka panjang.
Selain soal metodenya, Anda juga perlu memperhatikan produk yang digunakan. Untuk kebutuhan perkuatan struktur, salah satu produk yang direkomendasikan ialah Sika MonoTop®-613 IND.
Produk Sika ini cocok digunakan sebagai material perbaikan beton dengan beberapa keunggulan yang ditawarkan meliputi konsistensi yang bisa diatur, tidak sagging, tahan embun beku, tidak korosif, hingga dapat diaplikasikan dengan ketebalan 40 mm untuk area vertikal.
Sika sendiri merupakan perusahaan dengan pengalaman selama 115 tahun di bidangnya dan sudah banyak menjadi bagian dari proyek besar. Beberapa contohnya, yaitu seperti Ruang Operasi Rumah Sakit York di UK dan proyek MRT di Indonesia. Selain itu, Sika Indonesia juga menjadi brand pertama yang mencetuskan produk waterproofing berbahan semen.
Supaya Anda bisa mendapatkan produk Sika yang sesuai kebutuhan bangunan, ada baiknya Anda melakukan konsultasi yang matang bersama ahlinya dengan menghubungi Kontak/Dukungan Sika Indonesia. Anda juga bisa mendapatkan informasi lengkap terkait produk perkuatan struktur lainnya dengan mengunjungi laman Sika.


Tinggalkan Balasan