Inilah Tradisi dan Mitos Saat Terjadi Gerhana Bulan Total di Indonesia

Tradisi Gerhana Bulan Total
Tradisi Gerhana Bulan Total (Ilustrasi:TheHindu)

Tradisi gerhana Bulan total dan mitosnya di Indonesia. Gerhana Bulan Total terakhir tahun 2022 akan terjadi hari Selasa 8 November 2022.

Gerhana Bulan Total adalah sebuah fenomena astronomis saat seluruh permukaan Bulan memasuki bayangan inti atau umbra Bumi.

Fenomena ini terjadi karena konfigurasi antara Bulan, Bumi dan Matahari membentuk suatu garis lurus.

Gerhana Bulan Total yang akan terjadi hari ini tanggal 8 November 2022 ini memiliki durasi total selama 1 jam 24 menit 58 detik. Sementara, durasi umbral atau sebagian dan total terjadi selama 3 jam 39 menit 50 detik.

Perlu diketahui, saat terjadi fenomena ini ada beberapa tradisi hingga mitos yang sering dilakukan di Indonesia.

Gerhana Bulan Total saat masa Jawa Kuno telah dituliskan dalam sebuah prasasti dan juga relief candi.

Dalam peninggalan tersebut telah dituliskan tentang mitos hingga penanda peristiwa penting. Kata gerhana juga diyakini merupakan istilah yang diambil dari bahasa Jawa Kuna, yaitu candragrahana.

Bahkan ada sebuah prasasti tertua yang diperkirakan bertarikh 11 Maret 843 Masehi atau abad ke-9 menyebutkan adanya peristiwa Gerhana Bulan.

Berikut ini beberapa tradisi unik hingga mitos yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia saat terjadi fenomena ini, yaitu:

1. Menumbuk Lesung

Tradisi gerhana bulan total yang dilakukan masyarakat Jawa ini adalah dengan menumbuk lesung. Masyarakat Jawa mempercayai bahwa fenomena ini bisa terjadi karena raksasa jahat Batara Kala sedang menelan bulan.

Sehingga, mereka yang percayai hal mitos ini akan memukul-mukul lesung padi saat fenomena ini berlangsung. Tradisi ini memiliki arti seperti sedang memukul-mukul jasad dari Batara Kala yang masih hidup itu, sehingga bulan yang ditelannya akan dimuntahkan lagi.

2. Memukul Gong atau Kentongan

Saat terjadi fenomena ini, umumnya masyarakat Dayak akan membunyikan gong atau kentongan.

Menurut mitosnya, hal ini bisa terjadi karena bulan ditelan oleh sebuah makhluk gaib yang bernama Ruhu.

Sementara untuk masyarakat Dayak Ngaju, ketika terjadinya fenomena ini akan melakukan sebuah tradisi memukul-mukul atau menggoyangkan batang pohon buah-buahan.

Hal ini dilakukan untuk membangkitkan Gana, yaitu roh dari pohon tersebut supaya pohon tersebut dapat berbuah lebat.

Memukul kentongan juga dilakukan oleh masyarakat Tidore. Masyarakat Tidore menuebut tradisi ini dengan nama tradisi Dolo-dolo.

Kentongan yang terbuat dari bahan bambu tersbut dipukul secara bersamaan. Tujuannya adalah untuk mengusir raksasa yang menelan bulan.

3. Membuat Nasi Liwet

Masyarakat Jawa meyakini jika ada perempuan yang sedang hamil maka mereka akan melakukan tradisi membuat nasi liwet. Tradisi liwetan ini dipercaya bisa mengusir buto ijo.

Menurut mitosnya, datangnya buto ijo atau makhluk gaib raksasa ini adalah untuk memangsa janin para ibu hamil saat gerhana.

4. Mencuri Beras Tetangga

Tradisi mencuri beras tetangga ini adalah warisan dari nenek moyang suku bugis khususnya di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Biasanya, mereka akan mencuri segenggam beras dari tetangganya. Perlu diketahui, tidak ada satu tetanggapun yang merasa dirugikan saat tradisi ini dilakukan.

Karena mereka juga melakukan hal sama kepada tetangganya tersebut. Beras yang dicuri tersebut akan diubam menjadi bedak. Bedak tersbut nantinya akan dipercaya dapat membuat wajah yang memakainya menjadi lebih cantik.