hainews.co.id – Unggahan mengenai urine yang mengeluarkan bau mirip feses atau tinja menjadi perbincangan di media sosial X. Keluhan tersebut viral setelah dibagikan akun @tanyakanrl pada Senin (11/5/2026) dan menarik perhatian jutaan pengguna internet.

Dalam unggahan itu, seorang warganet mengaku awalnya mengira aroma tidak sedap berasal dari lantai toilet. Namun setelah beberapa kali buang air kecil, ia menyadari sumber bau tersebut ternyata berasal dari urine miliknya sendiri.

“Ada yg pernah ngalamin gak? Kenapa ya itu,” tulis pengunggah.

Unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 1,4 juta kali dan memicu ratusan komentar. Sejumlah warganet mengaku pernah mengalami kondisi serupa, sementara lainnya menyarankan agar segera memeriksakan diri ke dokter.

Lantas, apakah urine yang berbau seperti feses merupakan tanda penyakit berbahaya?

Tidak Selalu Menandakan Penyakit Serius

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD(K), menjelaskan bahwa urine memang dapat mengeluarkan aroma yang tidak biasa, termasuk menyerupai bau feses. Namun kondisi tersebut tidak selalu berkaitan dengan penyakit serius.

Menurut Andi, persepsi seseorang terhadap bau juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat konsentrasi urine, jenis makanan yang dikonsumsi, kondisi kebersihan toilet, hingga adanya infeksi tertentu.

“Kadang persepsi bau juga bisa dipengaruhi konsentrasi urine, makanan, kebersihan toilet, atau infeksi tertentu,” ujar Andi.

Ia menambahkan, terdapat beberapa penyebab umum yang dapat membuat aroma urine menjadi lebih tajam atau tidak biasa.

Dehidrasi Jadi Penyebab yang Paling Sering

Salah satu penyebab paling umum adalah dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Saat tubuh tidak mendapatkan cukup asupan cairan, urine menjadi lebih pekat sehingga menghasilkan bau yang lebih menyengat dibandingkan biasanya.

Selain dehidrasi, infeksi saluran kemih (ISK) juga dapat menyebabkan perubahan aroma urine. Bakteri yang berkembang dalam saluran kemih mampu menghasilkan senyawa tertentu yang membuat bau urine menjadi lebih kuat.

Kondisi ini biasanya tidak hanya ditandai perubahan aroma, tetapi juga disertai gejala lain seperti nyeri saat buang air kecil, anyang-anyangan, atau urine yang tampak keruh.

Makanan dan Penyakit Metabolik Juga Berpengaruh

Perubahan aroma urine juga dapat dipengaruhi oleh pola makan sehari-hari. Beberapa makanan dan minuman diketahui mampu menghasilkan bau khas pada urine, seperti petai, jengkol, asparagus, bawang, kopi, serta berbagai jenis suplemen dan vitamin.

Selain itu, gangguan metabolik seperti diabetes yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan perubahan bau urine akibat tingginya kadar gula dalam tubuh.

Bisa Menjadi Tanda Fistula Enterovesika

Meski sebagian besar kasus tidak berbahaya, Andi mengingatkan bahwa urine yang benar-benar berbau seperti feses dapat menjadi tanda kondisi medis yang lebih serius, yaitu fistula enterovesika.

Fistula enterovesika merupakan kondisi terbentuknya saluran abnormal antara usus dan kandung kemih. Akibatnya, bakteri, udara, hingga isi usus dapat masuk ke dalam saluran kemih dan memengaruhi karakteristik urine.

Pada kondisi tersebut, urine tidak hanya berbau seperti feses, tetapi juga dapat disertai gejala lain seperti munculnya gelembung udara saat buang air kecil, infeksi saluran kemih berulang, nyeri perut, hingga keluarnya partikel menyerupai kotoran melalui urine.

Kondisi ini dapat dipicu oleh sejumlah penyakit dan tindakan medis, seperti radang usus kronis, divertikulitis, komplikasi pascaoperasi, tumor, maupun infeksi berat di area perut dan panggul.

Faktor Kebersihan Juga Perlu Diperhatikan

Selain faktor medis, kebersihan area genital dan sekitar anus juga berperan dalam munculnya aroma tidak sedap saat buang air kecil.

Kontaminasi bakteri atau sisa kotoran, terutama pada lingkungan toilet yang kurang bersih dan memiliki ventilasi buruk, dapat membuat seseorang mengira urine mengeluarkan bau menyerupai feses.

Karena itu, menjaga kebersihan diri dan memastikan tubuh tetap terhidrasi menjadi langkah awal yang penting untuk mencegah perubahan bau urine.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Andi menegaskan bahwa urine yang sesekali berbau tidak biasa belum tentu menjadi tanda penyakit berbahaya, terutama jika tidak disertai keluhan lain.

Namun, pemeriksaan medis perlu dilakukan apabila kondisi tersebut terjadi berulang, berlangsung terus-menerus, atau disertai gejala tambahan.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Nyeri saat buang air kecil
  • Demam
  • Urine keruh atau bercampur darah
  • Anyang-anyangan
  • Nyeri perut
  • Keluar gelembung udara saat kencing
  • Bau urine sangat menyengat dan menetap

Jika mengalami satu atau lebih gejala tersebut, disarankan segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Meski sering kali hanya disebabkan oleh dehidrasi atau pola makan tertentu, perubahan bau urine yang berlangsung lama tetap tidak boleh diabaikan karena dapat menjadi petunjuk adanya gangguan kesehatan yang memerlukan perhatian medis.