hainews.co.id – Museum Tsunami Aceh resmi membuka pameran foto jurnalistik bertajuk “Prahara Pulau Emas” pada Senin (3/8/2026). Sebanyak 65 karya foto hasil bidikan anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) dipamerkan untuk mengabadikan berbagai peristiwa bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025.
Pameran ini menghadirkan dokumentasi visual dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, menampilkan potret kerusakan, proses evakuasi, perjuangan para penyintas, serta upaya pemulihan yang dilakukan setelah bencana. Melalui rangkaian foto tersebut, pengunjung diajak memahami dampak nyata bencana sekaligus pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman serupa.
Ketua panitia menjelaskan bahwa seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil liputan langsung para pewarta foto saat bencana hidrometeorologi terjadi pada November 2025. Setiap foto merekam momen-momen penting yang tidak hanya memiliki nilai jurnalistik, tetapi juga menjadi catatan sejarah tentang perjuangan masyarakat menghadapi krisis.
Pembukaan pameran turut dihadiri Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, yang memberikan apresiasi kepada para pewarta foto atas dedikasi mereka dalam mendokumentasikan peristiwa kemanusiaan. Menurutnya, karya jurnalistik visual memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik mengenai pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Museum Tsunami Aceh dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki fungsi sebagai pusat edukasi kebencanaan sekaligus ruang refleksi bagi masyarakat. Kehadiran pameran ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman pengunjung terhadap risiko bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat akibat perubahan iklim.
Selain menyajikan sisi tragedi, sejumlah karya juga menampilkan semangat gotong royong, solidaritas, dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi masa-masa sulit. Narasi visual tersebut memperlihatkan bagaimana warga, relawan, aparat, dan berbagai pihak bahu-membahu melakukan penyelamatan serta pemulihan pascabencana.
Bagi dunia jurnalistik, pameran “Prahara Pulau Emas” menjadi bukti pentingnya fotografi sebagai media dokumentasi sejarah. Foto-foto yang ditampilkan tidak hanya menyampaikan informasi secara faktual, tetapi juga menghadirkan dimensi emosional yang mampu menggugah empati dan kepedulian publik terhadap isu kemanusiaan.
Melalui pameran ini, Museum Tsunami Aceh berharap masyarakat tidak hanya mengenang peristiwa yang terjadi, tetapi juga mengambil pelajaran mengenai pentingnya mitigasi risiko bencana. Dokumentasi visual yang dihadirkan menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan, kolaborasi, dan kepedulian merupakan kunci untuk mengurangi dampak bencana di masa mendatang.


Tinggalkan Balasan