hainews.co.id – Ada yang bilang, perjalanan terbaik dimulai dari persiapan yang matang. Aku setuju. Tapi aku juga belajar hal itu bukan dari buku atau artikel travel melainkan dari dua kali liburan ke Lombok yang hasilnya sangat berbeda, bukan karena destinasinya berubah, tapi karena cara aku mempersiapkannya yang berubah.
Ini bukan tulisan yang mau menggurui. Ini cuma cerita jujur dari seseorang yang pernah datang ke Lombok dengan persiapan seadanya, pulang dengan setengah rencana yang tidak terlaksana, lalu kembali lagi dengan kepala yang lebih dingin dan pulang dengan cerita yang jauh lebih baik.
Kesalahan Pertama: Merasa Sudah Cukup Riset
Sebelum trip pertama ke Lombok, aku merasa sudah melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Aku scroll Instagram berhari-hari, simpan ratusan foto destinasi, bahkan bikin spreadsheet itinerary yang kelihatannya rapi dan terencana. Di atas kertas, perjalanan itu sempurna.
Masalahnya, aku terlalu fokus pada “apa yang mau dikunjungi” dan hampir tidak memikirkan “bagaimana caranya sampai ke sana.”
Lombok bukan kota kecil. Jarak antar destinasi tidak bisa dianggap sepele. Pantai yang kelihatannya dekat di peta ternyata butuh satu setengah jam perjalanan darat melewati jalan yang kondisinya tidak selalu bisa diprediksi hanya dari foto Google Street View. Dan ketika aku tiba di sana tanpa rencana transportasi yang jelas, seluruh itinerary yang aku susun rapi itu mulai berantakan satu per satu.
Hari pertama saja aku sudah kehilangan hampir tiga jam hanya untuk mencari kendaraan dari bandara ke penginapan. Tiga jam yang harusnya bisa aku pakai untuk jalan, makan siang di warung lokal, atau sekadar rebahan sebentar setelah penerbangan pagi.
Yang Tidak Diceritakan di Konten Travel
Satu hal yang jarang muncul di konten perjalanan entah itu blog, video YouTube, atau Reels yang estetik adalah bagian yang membosankan tapi sangat menentukan: logistik.
Tidak ada yang memposting foto dirinya antri panjang di pangkalan taksi bandara. Tidak ada yang bikin konten soal frustrasi ketika aplikasi ojek online menunjukkan tidak ada driver tersedia di lokasi. Dan hampir tidak ada yang jujur soal berapa banyak waktu dan energi yang terbuang karena salah kalkulasi soal transportasi.
Tapi kenyataannya, hal-hal itulah yang paling sering menentukan apakah sebuah liburan terasa menyenangkan atau melelahkan. Bukan cuacanya, bukan ramainya destinasi, bukan kualitas penginapannya. Tapi seberapa lancar kamu bisa bergerak dari satu titik ke titik lain tanpa kehilangan terlalu banyak waktu di jalan.
Di Lombok, ini terasa lebih nyata dibanding banyak tempat lain yang pernah aku kunjungi.
Belajar dari Rombongan yang Tepat
Di trip pertama yang setengah berantakan itu, aku bertemu sepasang wisatawan asal Bandung yang sedang sarapan di penginapan yang sama. Mereka sudah tiga hari di Lombok dan kelihatannya sangat menikmati setiap harinya wajahnya cerah, ceritanya antusias, dan yang paling aku perhatikan: tidak ada keluhan soal transportasi sama sekali.
Aku tanya rahasianya.
“Kami sewa mobil dari hari pertama,” kata si perempuan sambil minum kopinya. “Pesan sebelum berangkat, jadi waktu landing langsung ada yang jemput. Dari situ bebas mau ke mana saja.”
Sesederhana itu. Tapi aku baru mendengarnya di hari ketiga, setelah dua hari sebelumnya habis dengan urusan cari kendaraan yang tidak efisien.
Trip Kedua: Persiapan yang Benar-Benar Berbeda
Setahun setelah trip pertama, aku kembali ke Lombok. Kali ini aku mulai persiapan bukan dari itinerary, tapi dari transportasi.
Aku riset beberapa layanan sewa mobil Lombok yang beroperasi di sana. Dari beberapa yang aku pertimbangkan, aku akhirnya pilih Lepas Kunci Lombok namanya cukup sering muncul di forum traveler yang aku ikuti, dan waktu aku hubungi pertama kali, orang yang merespons bisa menjawab semua pertanyaanku dengan detail tanpa terkesan terburu-buru.
Aku tanya soal kondisi jalan menuju Sembalun. Aku tanya soal kendaraan yang cocok kalau rencananya mau ke kawasan selatan dan timur dalam hari yang berbeda. Aku tanya soal parkir di sekitar Pelabuhan Bangsal kalau mau menyebrang ke Gili. Semua dijawab. Tidak ada yang dipeleset atau dikira pertanyaan aneh.
Dari situ aku sudah tahu: ini bukan layanan yang asal ada.
Hari H yang Terasa Sangat Berbeda
Begitu mendarat di Bandara Internasional Lombok, hal pertama yang aku rasakan adalah bedanya ketenangan itu. Tidak ada panik soal harus cari transportasi. Tidak ada negosiasi harga di saat kepala masih pusing habis bangun pagi buta untuk penerbangan pertama.
Mobilnya sudah ada. Kuncinya di tangan. Dan hari itu milikku sepenuhnya.
Aku langsung menuju kawasan Senggigi untuk sarapan bukan karena ada di itinerary, tapi karena aku mau dan aku bisa. Warung kecil di pinggir jalan menuju pantai, nasi goreng dengan telur mata sapi dan segelas teh manis panas. Pemandangan Selat Lombok dari kursi plastik yang goyang sedikit setiap kali angin datang.
Momen sarapan itu, yang tidak direncanakan sama sekali, terasa seperti pembuka yang sempurna untuk perjalanan empat hari ke depan.
Apa Saja yang Sebenarnya Perlu Disiapkan
Dari dua pengalaman yang sangat berbeda itu, aku bisa rangkum dengan jelas apa saja yang benar-benar menentukan kualitas sebuah perjalanan ke Lombok dan apa yang selama ini terlalu sering diremehkan.
Transportasi adalah fondasi, bukan pelengkap. Ini yang paling aku tekankan karena paling sering diabaikan. Lombok punya luas wilayah dan jarak antar destinasi yang tidak bisa diperlakukan seperti kota yang bisa dijelajahi jalan kaki atau naik transportasi umum. Putuskan dulu mau pakai apa selama di sana, baru susun itinerary-nya. Bukan sebaliknya.
Pesan kendaraan sebelum pesan hotel. Ini mungkin terdengar terbalik dari kebiasaan kebanyakan orang. Tapi logikanya sederhana: lokasi hotelmu sebaiknya menyesuaikan rute perjalananmu, bukan sebaliknya. Kalau kamu sudah tahu hari pertama mau ke selatan dan hari ketiga mau ke utara, itu akan sangat memengaruhi di mana sebaiknya kamu menginap.
Jangan terlalu padat mengisi itinerary. Kesalahan klasik yang hampir semua orang buat di trip pertama ke destinasi baru. Lombok punya banyak hal menarik, dan godaan untuk memasukkan semuanya dalam satu perjalanan itu nyata. Tapi itinerary yang terlalu padat justru sering berakhir dengan tidak ada satu pun destinasi yang benar-benar dinikmati.
Siapkan uang tunai dari rumah. Banyak warung, parkir, tiket masuk wisata, dan jasa di kawasan terpencil Lombok yang belum menerima pembayaran digital. ATM tersedia di pusat kota tapi tidak selalu berfungsi optimal di daerah yang lebih jauh. Membawa uang tunai secukupnya dari awal jauh lebih nyaman daripada panik mencari ATM di tengah perjalanan.
Sisakan satu hari tanpa rencana. Ini saran yang mungkin kelihatan mewah kalau liburanmu cuma tiga atau empat hari. Tapi percayakan padaku hari yang paling tidak terlupakan dalam sebuah perjalanan hampir selalu adalah hari yang tidak direncanakan. Hari ketika kamu bisa belok ke jalan yang kelihatannya menarik, berhenti di warung yang baunya menggoda dari kejauhan, atau duduk lebih lama di satu pantai tanpa harus lirik jam.
Lombok Itu Soal Siapa Kamu Saat di Sana
Aku pernah membaca suatu tulisan yang bilang bahwa cara seseorang bepergian mencerminkan cara mereka menjalani hidup. Terlalu filosofis mungkin, tapi ada benarnya juga.
Di trip pertama yang serba buru-buru dan penuh improvisasi dadakan itu, aku ada di Lombok secara fisik tapi tidak pernah benar-benar hadir. Pikiranku selalu selangkah di depan mengkhawatirkan transportasi berikutnya, mengkalkulasi apakah masih sempat ke destinasi selanjutnya, terlalu sibuk mengurus logistik yang harusnya sudah beres sebelum aku berangkat.
Di trip kedua, aku bisa duduk di pinggir pantai tanpa memegang ponsel. Aku bisa ngobrol dengan nelayan lokal tanpa terburu-buru. Aku bisa memilih untuk tidak pergi ke mana-mana di satu sore karena pemandangan dari tempat aku duduk saat itu sudah cukup untuk membuat aku diam dan bersyukur.
Perbedaan itu bukan soal berapa banyak uang yang aku keluarkan atau seberapa mewah penginapan yang aku pilih. Perbedaannya terletak pada satu keputusan sederhana yang aku buat jauh sebelum berangkat: memastikan rental mobil Lombok sudah beres, kendaraan sudah dipesan, dan aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi sejak hari pertama.
Kalau kamu sekarang sedang di fase merencanakan perjalanan ke Lombok, mulailah dari sana. Cek ketersediaan dan layanan sewa mobil Lombok sebelum kamu sibuk memilih hotel atau menyusun daftar destinasi. Karena liburan yang baik tidak dimulai dari foto yang bagus tapi dari persiapan yang tidak meninggalkan ruang untuk hal-hal yang seharusnya bisa dicegah.
Selamat berencana. Lombok menunggumu dengan cara terbaiknya.


Tinggalkan Balasan