hainews.co.id – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengungkapkan bahwa wisata kuliner atau gastronomi menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, sebanyak 58,34 persen wisatawan mancanegara melakukan aktivitas wisata kuliner atau gastronomi selama berada di Indonesia.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan tingginya minat wisatawan terhadap kuliner Nusantara menunjukkan besarnya potensi gastronomi untuk dikembangkan sebagai bagian dari strategi pariwisata nasional.

“Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa 58,34 persen dari wisatawan yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2025 melakukan aktivitas wisata kuliner atau gastronomi,” kata Widiyanti dalam konferensi pers Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 di Jakarta, Selasa.

Menurut Widiyanti, kekayaan kuliner Indonesia tidak dapat dipisahkan dari tradisi, budaya, serta sumber daya pangan yang berkembang di berbagai daerah. Keragaman tersebut menjadi aset yang dapat memperkuat pengalaman wisatawan ketika berkunjung ke Indonesia.

“Salah satu aset terbesar Indonesia sebagai destinasi wisata yaitu warisan gastronomi yang begitu kaya dan berakar kuat pada budaya masyarakat,” ujarnya.

Kemenpar melihat gastronomi memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas menikmati makanan. Di dalamnya terdapat berbagai unsur yang berkaitan dengan budaya dan rantai pangan, mulai dari bahan baku hingga proses pengolahan dan penyajiannya.

Indonesia memiliki keragaman kuliner yang berkembang dari ribuan pulau dengan karakter budaya dan sumber daya pangan yang berbeda-beda. Ekosistem tersebut melibatkan berbagai pelaku, mulai dari nelayan, peternak, petani, produsen pangan, hingga juru masak yang turut mempertahankan tradisi kuliner dari generasi ke generasi.

Bagi wisatawan, pengalaman gastronomi juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih jauh identitas suatu daerah. Wisatawan tidak hanya menikmati cita rasa makanan, tetapi juga dapat mengetahui asal-usul bahan, filosofi makanan, serta cerita budaya yang menyertainya.

Tingginya aktivitas wisata kuliner di kalangan wisman menjadi salah satu alasan Kemenpar mendorong gastronomi sebagai bagian dari program unggulan pariwisata.

Pemerintah melihat pengembangan gastronomi dapat memberikan nilai tambah bagi destinasi sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha di sepanjang rantai industri makanan dan pariwisata.

Strategi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat eksposur kuliner Indonesia di pasar internasional. Dengan memperkenalkan makanan beserta cerita budaya di baliknya, Indonesia diharapkan memiliki lebih banyak produk wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan mancanegara.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Pariwisata bersama Indonesia Gastronomy Network (IGN) menggelar program Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 dengan tema From Local Roots to Global Recognition.

Rangkaian kegiatan tersebut akan berlangsung di Solo dan Yogyakarta pada 26 September hingga 4 Oktober 2026.

Program WIG dirancang untuk memperkenalkan kekayaan gastronomi Indonesia melalui pendekatan yang menghubungkan akar budaya lokal dengan perkembangan gastronomi masa kini.

Wisatawan maupun pengunjung akan diajak mengenal perjalanan sebuah hidangan secara lebih menyeluruh, mulai dari asal-usul bahan pangan, proses pengolahan, nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya, hingga interpretasi kuliner dalam konteks modern.

Pengembangan wisata gastronomi juga membuka peluang bagi daerah untuk memperkuat daya tarik wisatanya melalui kekayaan pangan lokal. Setiap daerah memiliki bahan baku, teknik memasak, tradisi, dan cerita kuliner yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata.

Dengan pendekatan tersebut, kuliner tidak hanya ditempatkan sebagai produk pendukung perjalanan, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman utama wisatawan ketika mengenal suatu destinasi.

Kemenpar berharap pengembangan gastronomi dapat memperkuat posisi Indonesia di pasar pariwisata global sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi pelaku ekonomi lokal.

Data BPS yang menunjukkan 58,34 persen wisman melakukan aktivitas wisata kuliner pada 2025 menjadi salah satu gambaran besarnya potensi gastronomi Indonesia. Pemerintah kini berupaya mengembangkan potensi tersebut dari kekayaan lokal menuju produk wisata yang semakin dikenal di tingkat global.