hainews.co.id – Perselingkuhan kerap dipahami sebagai tanda bahwa sebuah hubungan sedang bermasalah. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit kasus perselingkuhan justru terjadi pada pasangan yang tampak harmonis, penuh kasih, dan jauh dari konflik besar. Fakta ini kerap menimbulkan kebingungan sekaligus luka emosional mendalam bagi pihak yang diselingkuhi.
Menurut para terapis, perselingkuhan tidak selalu berkaitan dengan ketidakbahagiaan dalam hubungan. Dalam banyak kasus, akar persoalannya justru berhubungan dengan kondisi psikologis individu itu sendiri.
“Perselingkuhan dalam sebuah hubungan tidak selalu berarti seseorang merasa sepenuhnya tidak bahagia atau ingin mengakhiri hubungan tersebut,” ujar Stacy Thiry, konselor kesehatan mental berlisensi di Grow Therapy, dikutip dari Best Life, Selasa (3/2/2026).
Para pakar pun mengungkap sejumlah alasan mengapa seseorang dapat berselingkuh meski berada dalam hubungan yang terlihat bahagia.
1. Harga Diri yang Rendah
Individu dengan harga diri rendah kerap bergumul dengan perasaan kosong, malu, dan tidak berharga, bahkan ketika berada dalam hubungan yang suportif. Kondisi ini mendorong mereka mencari validasi dari luar hubungan.
Psikolog klinis Monica Vermani menjelaskan, rendahnya rasa percaya diri sering memicu kebutuhan akan perhatian dan pengakuan eksternal. Stacy Thiry menambahkan, perhatian dari orang lain dapat menjadi penambal sementara bagi perasaan “tidak cukup” dalam diri seseorang.
“Digoda atau diperhatikan oleh orang lain bisa memberi dorongan ego yang instan,” kata Ken Fierheller, psikoterapis terdaftar.
2. Mencari Sensasi dan Lonjakan Dopamin
Pengalaman baru memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang dan antusiasme. Inilah yang membuat perselingkuhan sering terasa menggairahkan di awal.
Terapis pernikahan dan keluarga Renée Zavislak menyebut sensasi tersebut kerap disalahartikan sebagai tanda kebahagiaan baru. Padahal, menurut konselor kesehatan mental Kristie Tse, seseorang bisa saja mencintai pasangannya namun tetap tergoda oleh sensasi baru.
“Bukan karena pernikahannya buruk, melainkan karena dorongan akan pengalaman baru,” jelas Tse.
Karena itu, Thiry menekankan pentingnya pasangan untuk terus menciptakan pengalaman baru bersama agar hubungan tidak terasa monoton.
3. Kebutuhan Seksual yang Tidak Sejalan
Perbedaan kebutuhan seksual merupakan hal yang umum dalam hubungan jangka panjang. Namun, jika tidak dibicarakan secara terbuka, ketimpangan ini dapat menjadi celah munculnya perselingkuhan.
Fierheller menjelaskan, pasangan dengan dorongan seksual lebih tinggi bisa merasa tidak terpenuhi secara konsisten. Meski bukan pembenaran, kondisi ini meningkatkan risiko seseorang mencari pemenuhan di luar hubungan. Komunikasi terbuka dan saling menghormati menjadi kunci penting dalam menghadapi perbedaan ini.
4. Trauma Masa Lalu yang Belum Terselesaikan
Pengalaman masa kecil, termasuk menyaksikan perselingkuhan orangtua, dapat membentuk pola relasi di masa dewasa. Vermani menyebut, individu yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini kerap membawa rasa tidak aman dan ketidakpercayaan dalam hubungan romantis.
Kristie Tse menambahkan, gaya keterikatan tidak aman seperti anxious atau avoidant attachment juga berkontribusi pada risiko perselingkuhan. Meski demikian, trauma tidak dapat dijadikan pembenaran atas perilaku tidak setia.
“Terapi dapat membantu seseorang memahami pola ini dan membangun hubungan yang lebih sehat,” ujar Tse.
5. Merasa Kesepian Secara Emosional
Kesepian tidak selalu berarti sendirian. Seseorang bisa merasa sepi meski memiliki pasangan, terutama ketika jarak fisik atau kesibukan membuat koneksi emosional melemah.
Terapis Rachel Goldberg menjelaskan, kondisi ini kerap terjadi pada pasangan yang sering terpisah karena pekerjaan atau perjalanan. Dalam situasi seperti ini, perselingkuhan sering berawal dari kedekatan emosional sebelum berkembang menjadi hubungan fisik.
6. Kontrol Impuls yang Lemah
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menahan godaan. Goldberg menyebut individu dengan kecenderungan impulsif lebih rentan mencari pelarian instan dari stres atau emosi negatif.
Kabar baiknya, kemampuan mengendalikan impuls dapat dilatih melalui terapi, termasuk dengan meningkatkan empati dan kesadaran diri terhadap dampak perilaku pada pasangan.
Perselingkuhan dalam hubungan yang tampak bahagia menunjukkan bahwa kebahagiaan relasi tidak selalu mencerminkan kesehatan emosional individu di dalamnya. Kesadaran diri, komunikasi terbuka, serta keberanian untuk mencari bantuan profesional menjadi kunci penting dalam menjaga hubungan tetap utuh dan sehat.


Tinggalkan Balasan