hainews.co.id – Anak-anak penyintas gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 menghadapi tantangan pemulihan psikologis di tengah masih terjadinya guncangan susulan.
Sepekan setelah gempa bermagnitudo 7,7, sebagian anak yang berada di posko pengungsian masih mengalami kecemasan dan ketakutan. Kondisi tersebut terutama dirasakan anak-anak yang mengungsi di wilayah pesisir, termasuk di Posko Lapangan Pendidikan Barangkolong, Manggarai.
Ketakutan yang dirasakan anak-anak bukan hanya terhadap guncangan gempa, tetapi juga kemungkinan terjadinya tsunami. Kondisi tersebut membuat sebagian anak merasa lebih aman berada di posko pengungsian dibandingkan kembali ke rumah.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas, mengatakan layanan psikososial sangat dibutuhkan masyarakat terdampak, khususnya anak-anak.
Hal itu disampaikannya dalam pertemuan dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi di Kantor BPBD Kabupaten Manggarai.
“Ada seorang anak, bahkan dia sampai bilang begini, Mama, saya tidak mau pulang, saya lebih nyaman di posko, dan itu hampir dialami oleh seluruh anak-anak yang ada di posko, terutama posko-posko yang berada di sekitar pantai. Mereka tidak takut gempanya. Mereka takut tsunami,” ujar Kristiani.
Menurut Kristiani, kondisi geografis Flores yang berada di wilayah rawan gempa membuat edukasi mengenai kebencanaan menjadi penting. Masyarakat perlu mendapatkan pemahaman mengenai gempa dan cara menghadapinya agar tidak terus-menerus berada dalam kecemasan.
“Sampai kapanpun dengan keadaan geologi Flores yang seperti ini, gempa terus akan berlanjut. Bantu kami untuk sama-sama mengedukasi ruang publik bahwa kita sudah mulai harus bersahabat dengan gempa,” katanya.
Pemulihan anak-anak penyintas tidak hanya dilakukan dengan memenuhi kebutuhan dasar selama berada di pengungsian. Pendampingan psikologis juga diperlukan untuk membantu mereka menghadapi pengalaman traumatis akibat bencana.
Sejumlah kegiatan trauma healing dilakukan dengan pendekatan interaktif agar anak-anak dapat kembali bermain dan mengekspresikan perasaan mereka. Namun, proses pemulihan membutuhkan waktu karena kondisi emosional anak masih mudah berubah, terutama ketika mereka kembali mengingat pengalaman saat gempa.
Dalam salah satu sesi pendampingan, psikolog dan konselor meminta anak-anak menggambar sebagai media untuk mengekspresikan perasaan. Dari hasil gambar tersebut, sejumlah anak secara konsisten menggambarkan laut.
Gambaran tersebut dinilai mencerminkan kekhawatiran anak terhadap ancaman tsunami. Karena itu, pendampingan psikososial perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya sesaat setelah bencana.
Pemulihan trauma pada anak menjadi bagian penting dari penanganan pascabencana. Dukungan dari pemerintah, tenaga psikologis, keluarga, dan masyarakat diperlukan agar anak-anak penyintas dapat kembali merasa aman dan perlahan menjalani aktivitas secara normal.
Selain membantu mengurangi kecemasan, edukasi kebencanaan yang sesuai usia juga diperlukan agar anak memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa atau potensi tsunami kembali terjadi. Dengan pendekatan tersebut, pemulihan diharapkan tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga pada kesehatan mental para penyintas.


Tinggalkan Balasan