hainews.co.id – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyebut penyelenggaraan Jakarta Running Festival (JRF) dan konser rapper dunia Kanye West atau Ye bertajuk “Ye Live in Jakarta 2026” memberikan dampak ekonomi sekitar Rp625 miliar bagi Ibu Kota.

Pramono merinci, Jakarta Running Festival menyumbang dampak ekonomi sekitar Rp175 miliar, sedangkan konser Ye menghasilkan dampak ekonomi mencapai Rp450 miliar.

“Dampak ekonomi terhadap Jakarta Running Festival sudah dihitung oleh jajaran di bawah koordinasi Asisten Keuangan Pemerintah DKI Jakarta, angkanya Rp175 miliar. Itu dari Jakarta Running Festival,” ujar Pramono saat dijumpai di Puskesmas Taman Sari, Jakarta Barat, Senin.

Menurut Pramono, kontribusi ekonomi Jakarta Running Festival 2026 turut didukung keterlibatan 49 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta 130 merek lokal maupun internasional yang berpartisipasi dalam race expo.

Kehadiran pelaku usaha dan berbagai merek tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang tumbuh seiring penyelenggaraan ajang olahraga tersebut.

Sementara itu, konser Ye memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar, yakni sekitar Rp450 miliar. Pramono menyebut penjualan tiket konser saja telah menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp328 miliar.

“Kemudian dari pelaksanaan, karena memang Ye memberikan dampak yang lebih karena ada yang sebelum maupun sesudah, bahkan sampai kemarin pun banyak yang masih bertahan di Jakarta, angkanya kurang lebih Rp450 miliar. Kalau dijumlahkan (JRF dan konser Ye) kurang lebih Rp625 miliar,” kata Pramono.

Pramono menjelaskan, dampak ekonomi dari kedua kegiatan tersebut tidak hanya berasal dari penjualan tiket dan aktivitas penyelenggaraan acara. Pergerakan pengunjung juga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor, termasuk perhotelan dan pusat perbelanjaan.

Menurutnya, sebagian pengunjung masih bertahan di Jakarta setelah konser berlangsung. Kondisi tersebut turut memperpanjang aktivitas belanja dan konsumsi masyarakat selama periode penyelenggaraan acara.

Meski demikian, Pramono meyakini nilai dampak ekonomi yang tercatat masih berpotensi lebih besar daripada Rp625 miliar. Pasalnya, tidak seluruh transaksi dan aktivitas ekonomi di lapangan dapat dihitung secara menyeluruh.

“Saya pribadi meyakini pasti lebih dari ini. Karena aktivitas masyarakat kan tidak bisa semuanya dihitung, tapi beberapa hal yang berkaitan dengan perhotelan, belanja di mal dan sebagainya yang bisa dihitung angkanya kurang lebih seperti itu,” papar Pramono.

Pernyataan tersebut menunjukkan potensi penyelenggaraan acara olahraga dan hiburan berskala besar dalam mendorong perputaran ekonomi Jakarta. Selain menarik penonton dan peserta, kegiatan semacam ini dapat memberikan peluang usaha bagi UMKM serta pelaku bisnis di sektor akomodasi, perdagangan, dan jasa.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap kegiatan berskala nasional maupun internasional dapat terus mendukung aktivitas ekonomi daerah, sekaligus memperkuat daya tarik Jakarta sebagai destinasi penyelenggaraan acara olahraga dan hiburan dunia.