hainews.co.idUsaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan PT Pertamina (Persero) mencatatkan omzet sebesar Rp8,57 miliar sepanjang semester I-2026. Capaian tersebut diperoleh setelah para pelaku usaha mengikuti ratusan pameran di tingkat regional, nasional, hingga internasional.
Sepanjang periode tersebut, UMKM binaan Pertamina tercatat mengikuti 414 pameran. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan penjualan, tetapi juga membuka akses pasar dan memperluas jaringan bisnis.
Partisipasi dalam berbagai pameran memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM untuk bertemu konsumen baru, calon mitra usaha, distributor, hingga pelaku industri lainnya.
Bagi pelaku UMKM, keterbatasan akses pasar sering menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan usaha. Kehadiran dalam pameran memberikan kesempatan untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada konsumen dengan jangkauan yang lebih luas.
Selain mengejar transaksi, pameran juga dapat menjadi sarana bagi pelaku usaha untuk mengetahui respons pasar terhadap produk mereka.
Interaksi langsung dengan konsumen memungkinkan pelaku UMKM mendapatkan masukan mengenai kualitas produk, kemasan, harga, hingga kebutuhan pasar.
Pengalaman tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengembangkan produk agar lebih kompetitif.
Salah satu UMKM binaan Pertamina yang merasakan manfaat dari program tersebut adalah Sambal Ning Niniek, usaha yang dirintis oleh Sri Wahyuni.
Produk sambal tersebut terus memperluas pasar melalui berbagai kesempatan pameran yang difasilitasi Pertamina.
Bagi pelaku usaha seperti Sambal Ning Niniek, pameran tidak hanya memberikan peluang penjualan secara langsung, tetapi juga membuka kesempatan untuk membangun hubungan dengan calon mitra dan memperkenalkan produk kepada pasar yang sebelumnya sulit dijangkau.
Pengembangan UMKM tidak hanya dilakukan melalui akses pasar. Pertamina juga memberikan dukungan berupa bantuan modal, pelatihan, serta program pengembangan kapasitas usaha.
Sambal Ning Niniek, misalnya, pernah memperoleh bantuan modal sebesar Rp35 juta pada 2023. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat operasional dan meningkatkan kapasitas produksi.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan usaha karena akses pasar perlu diimbangi dengan kemampuan produksi dan pengelolaan bisnis yang memadai.
Selain bantuan modal dan promosi, pelaku UMKM juga membutuhkan peningkatan standar produk agar dapat memasuki pasar yang lebih luas.
Pelatihan dan sertifikasi menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Dengan memenuhi standar yang diperlukan, produk UMKM memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke pasar modern maupun menjalin kerja sama dengan mitra bisnis yang lebih besar.
Pendekatan yang menggabungkan akses pasar, pembiayaan, pelatihan, dan sertifikasi dapat membantu UMKM berkembang secara lebih berkelanjutan.
Capaian omzet Rp8,57 miliar dari ratusan pameran menunjukkan bahwa akses terhadap pasar memiliki peran penting dalam pertumbuhan UMKM.
Bagi pelaku usaha, pameran bukan lagi sekadar tempat memajang produk. Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk melakukan transaksi, mencari mitra, membangun jaringan, sekaligus menguji kemampuan produk menghadapi persaingan.
Ke depan, dukungan yang berkelanjutan dibutuhkan agar semakin banyak UMKM mampu memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas produksinya.
Dengan kombinasi antara akses pasar, dukungan permodalan, pelatihan, dan pendampingan, UMKM binaan memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas dan memberikan kontribusi yang semakin kuat terhadap perekonomian nasional.


Tinggalkan Balasan