hainews.co.id – Dunia seni rupa Indonesia kembali diramaikan oleh sejumlah pameran yang mengangkat tema dan pendekatan berbeda. Pada September 2026, publik dapat menikmati pameran seni berbasis material logam di Surabaya serta pameran bertema kebencanaan di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung.

Kedua pameran tersebut memperlihatkan bagaimana seni rupa dapat menjadi medium untuk mengeksplorasi material sekaligus merespons persoalan sosial dan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di Surabaya, Sculpture Exhibition menampilkan puluhan karya yang mengeksplorasi logam sebagai material utama. Sementara di Bandung, Setanah, Tak Diam menghadirkan karya yang membahas hubungan manusia dengan pengetahuan dan lanskap dalam konteks kebencanaan.

Eksplorasi Logam dalam Sculpture Exhibition

Sculpture Exhibition di Surabaya menghadirkan sekitar 30 karya seni rupa yang memanfaatkan logam sebagai material utama.

Material yang identik dengan karakter keras dan kokoh tersebut diolah menjadi berbagai bentuk artistik melalui eksplorasi teknik dan proses pengerjaan yang beragam.

Pengunjung dapat melihat secara langsung bagaimana para seniman mengolah material logam menjadi karya dengan karakter visual yang berbeda. Pameran ini sekaligus memperlihatkan bahwa eksplorasi material menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan seni patung dan seni rupa kontemporer.

Kehadiran karya-karya tersebut juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh proses kreatif di balik pengolahan material yang tidak lazim digunakan dalam karya seni sehari-hari.

Setanah, Tak Diam Angkat Isu Kebencanaan

Sementara itu, Selasar Sunaryo Art Space di Bandung menghadirkan pameran Setanah, Tak Diam dengan pendekatan yang menghubungkan seni, pengetahuan, manusia, dan perubahan lanskap.

Pameran tersebut mengeksplorasi bagaimana manusia berhadapan dengan lingkungan yang terus berubah, termasuk dalam situasi yang berkaitan dengan bencana alam.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah instalasi dari Arafura & Exposed Project Team yang menghadirkan simulasi letusan gunung api dan gempa bumi.

Karena menghadirkan suasana yang menyerupai peristiwa bencana, penyelenggara memberikan peringatan kepada pengunjung. Ruang simulasi tersebut berpotensi memunculkan kembali ingatan atau pengalaman traumatis bagi penyintas bencana.

Pendekatan tersebut membuat pameran tidak hanya menempatkan karya sebagai objek untuk dilihat, tetapi juga sebagai pengalaman yang mengajak pengunjung memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan bencana.

Seni sebagai Ruang Refleksi

Kedua pameran tersebut memperlihatkan dua pendekatan berbeda dalam praktik seni rupa. Pameran di Surabaya menitikberatkan pada eksplorasi material dan teknik, sedangkan pameran di Bandung membawa isu lingkungan serta kebencanaan sebagai bagian dari pengalaman artistik.

Kehadiran pameran dengan tema tersebut menunjukkan bahwa seni rupa dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan sekaligus membuka dialog mengenai berbagai persoalan yang terjadi di sekitar masyarakat.

Bagi publik, pameran seni juga dapat menjadi sarana untuk mengenal proses kreatif seniman sekaligus melihat bagaimana sebuah karya dapat merespons kondisi sosial, budaya, dan lingkungan.

Pameran Setanah, Tak Diam di Selasar Sunaryo Art Space dijadwalkan berlangsung hingga 31 Oktober 2026. Masyarakat masih memiliki kesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut dan menikmati berbagai karya yang ditampilkan.